Pasca BBM Naik, Harga Cabai dan Sayuran Ikutan Naik


Senin, 24/06/2013 14:39 WIB
detikFinance Jakarta – Pasca kenaikan harga BBM subsidi yang dilakukan pemerintah mulai Sabtu lalu, beberapa harga komoditas pangan di pasar tradisional sudah mulai merangkak naik.

Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia Ngadiran mengatakan, beberapa jenis sayuran atau komoditas pertanian serta telur ayam terkerek naik setelah harga BBM dinaikkan.

Kenaikan harga yang terjadi berkisar antara 10% hingga 30% diakibatkan oleh kenaikan harga ongkos transportasi yang berkisar 10-15%.

“Kenaikan terjadi di hampir semua kebutuhan pangan mulai dari cabe, kentang hingga telur ayam. Salah satunya karena ongkos transportasi yang naik 10-15%,” tegas Ngadiran saat dihubungi detikFinance, Senin (24/6/2013).

Menurut Ngadiran, harga cabai rawit merah terus merangkak naik. Saat ini harga cabai rawit merah adalah Rp 40.000/kg. Padahal harga normalnya hanya Rp 20.000-21.000/kg. Tidak hanya cabai, harga kentang dan tomat pun ikut-ikutan naik. Harga normal kentang adalah Rp 6.000/kg sekarang Rp 8.000/kg. Sedangkan harga tomat dari Rp 3.500/kg menjadi Rp 7.000/kg.

Sementara itu Ngadiran juga mengungkapkan adanya kenaikan harga telur ayam. Saat ini harga telur per kg mencapai Rp 21.000/kg, padahal harga normalnya hanya Rp 14.000/kg.

Dikatakan Ngadiran, kenaikan harga saat ini sangat memprihatinkan. Peristiwa ini adalah buntut dari ketidaktegasan pemerintah yang tidak menaikan harga BBM secepatnya sehingga rakyat yang dirugikan.

“Artinya ini sudah sakit malah disiksa. Siapa yang dirugikan jelas masyarakat,” cetusnya.

Ngadiran menegaskan tidak ada praktik permainan harga di pasar yang memicu beberapa komoditas pokok mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga pangan pokok terjadi murni karena dampak kenaikan harga bahan bakar minyak.

“Kalau kondisi saat ini, jelas tidak ada permainan yang dilakukan oleh para pedagang. Ini murni dampak dari kenaikan harga BBM,” tegas Ngadiran.

Ia juga beralasa, dengan kenaikan harga BBM subsidi tidak saja masyarakat yang mengalami dampaknya, tetapi juga pedagang. Pendapatan pedagang turun hingga 30% karena daya beli masyarakat menurun.

“Pembeli sekarang kalau belanja sedikit. Biasanya beli telur 1/2 kg saat ini menjadi 1/4 kg. Orangnya tetap belanja tetapi uang belanjanya makin sedikit. Pendapatan pedagang juga turun 30% karena kenaikan harga barang. Biasanya harga telur Rp 14.000/kg kita bisa ambil untung Rp 600/kg sekarang harga naik Rp 21.000/kg kita juga ambil untung Rp 600/kg. Kalau ambil untung banyak-banyak barang kita tidak laku,” jelasnya.

Selain itu, para pedagang juga mengeluh soal ongkos kirim jasa logistik yang mengalami kenaikan. Biasanya jasa pengiriman barang dari Pasar Induk Kramat Djati ke pasar-pasar hanya Rp 200.000 sekali kirim, saat ini menjadi Rp 230.000.

“Pendapatan pedagang terganggu karen barang-barang pada naik. Belum lagi ongkos transportasi yang juga naik Rp 30.000 untuk sekali jalan,” tandasnya.

About these ads

2 responses

  1. I love your wordpress web template, exactly where would you down load it from?

    Like this

    1. Thanks…. i download this template from wordpress

      Like this

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: