Menjadikan Koperasi Feasible dan Bankable


Prihatin! Itulah mungkin kata yang tepat untuk mengungkap kondisi PerKoperasian di Tasikmalaya. Sebagai tempat Kongres Pertama Koperasi dilakukan, 12 Juli 1947, seharusnya Koperasi sudah berkibar lama dan menjadi sokoguru ekonomi daerah. Namun peristiwa itu lewat begitu saja, tak termanfaatkan. Saat ini saja, di Kota Tasikmalaya ada 486 Koperasi. 158 di antaranya atau 32,51% sudah tidak aktif lagi. Hanya 328 Koperasi (67,47%) yang masih bertahan. Itupun umumnya berbentuk Koperasi Karyawan. Seperti kata pepatah “hidup segan, mati tak mau”.

Menggunakan momentum “Hari Koperasi”, Bank Indonesia Tasikmalaya; Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian serta PT BNI Tbk Tasikmalaya bertekad, bekerja sama, untuk memajukan Koperasi melalui peranannya masing-masing. Selasa, 17 Juli 2012, di aula Bank Indonesia Tasikmalaya, disaksikan Walikota, Kepala Dinas se-Kotamadya dan ratusan mata pengurus, pengawas dan anggota koperasi serta undangan lainnya, tekad tersebut dituangkan melalui penandatanganan MoU (Memo of Understanding)

Dalam kata sambutannya, Kepala KPw BI Tasikmalaya, Isa Anshory meminta Koperasi merubah image agar bisa maju. Ada 3 tantangan yang harus dibenahi; yaitu menghapus image pemburu fasilitas pemerintah, meningkatkan nilai visionable agar bankable, dan mengikis perilaku Koperasi yang individualistis. “Ini tantangan berat. Namun hendaknya menjadi cambuk untuk bangkit menjadi Koperasi yang dinamis dan menjadi badan usaha yang tangguh dalam memberi kontribusi terhadap Perekonomian Nasional”, tandas Isa Anshory.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, Walikota Tasikmalaya, Syarief Hidayat mengingatkan bahwa Tasikmalaya tidak bisa menghindar dari gegap gempita Perkoperasian Nasional. Sebagai tempat Kongres Pertama, Tasikmalaya akan terus disebut-sebut. Fakta ini seharusnya bisa mendorong Perkoperasian Tasikmalaya untuk mejadi barometer kemajuan Koperasi di Indonesia. “Kuncinya adalah trust/kepercayaan. Dengan image yang bagus, Insya Allah trust tercipta”, ujar Beliau.

Setelah penandatangan MoU, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif. Narasumber dialog adalah, Rektor Universitas Siliwangi, Prof. Dr. H. Kartawan SE MP, Pemimpin Sentra Kredit Kecil PT BNI Tbk Tasikmalaya, Triono Budi Rahardjo dan Deputi Kepala KPw BI Tasikmalaya, Sabarudin. Banyak pertanyaan dan harapan yang disampaikan oleh Peserta maupun Narasumber. Intinya adalah, MoU tersebut tidak hanya sebatas seremonial, namun perlu tindaklanjut yang serius dan berkelanjutan. Prof. Dr. H. Kartawan SE MP mengingatkan bahwa Akademisi akan mengawal realisasi MoU ini. Sementara Triono Budi Rahardjo, berjanji akan mengucurkan kredit berapapun besarnya sepanjang memenuhi Standard Operating Procedur (SOP) BNI. Bank Indonesia Tasikmalaya berkomitmen untuk memperluas pihak-pihak yang terlibat dalam MoU. Tidak hanya Koperasi se-Kotamadya, tapi se-Priangan Timur. Tidak hanya melibatkan PT BNI Tbk, tapi juga Perbankan lainnya.

Butuh waktu yang panjang, untuk terciptanya impian tersebut. Dengan kerja keras dan upaya bersama, tidak ada yang tidak mungkin. “Apabila ada ketidaksepahaman antara Koperasi dan Perbankan oleh sebab image masa lalu, BI siap untuk memfasilitasi dan memediasi untuk mencapai kesepakatan. BI mampu untuk itu. BI juga siap membina dan memberikan pendampingan Koperasi, baik dari sisi manajemen maupun operasional agar menjadi Koperasi yang tidak hanya feasible tapi juga Bankable”, pungkas Sabarudin.

%d bloggers like this: