Daily Archives: January 10th, 2013

Usaha Kecil: 83% Belum Miliki Akses ke Perbankan


JAKARTA—Bank Indonesia memperkirakan baru sekitar 17% pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang memiliki akses pembiayaan ke perbankan berdasarkan catatan kepemilikan rekening bank, sisanya sekitar 83% belum memiliki akses.

Rahmi Artati, Analis Kredit Senior Departemen Kredit, BPR, dan UMKM Bank Indonesia, mengatakan berarti jumlah rekening bank anggota usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang tercatat hingga Agustus 2012 masih sebanyak 9.027.461.

”Angka itu berdasarkan penelitian yang kami lakukan pada Agustus 2012,” ujarnya pada Diskusi Panel Artikel MediaI lmiah Infokop yang diselenggarakan Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Koperasi dan UKM, hari ini, Jumat (2/11).

Adapun baki debet kredit UMKM sampai dengan Agustus 2012 mencapai Rp513.192,6 miliar. Sedangkan pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan sebesar 19,9%.

Padahal pertumbuhan kredit UMKM adalah 14,1% year on year per Agustus 2012. Kemudian kredit kepada usaha menengah tercatat memiliki porsi paling tinggi dibandingkan dengan sektor usaha lainnya.

Menurut dia, ada tiga kesenjangan yang menghambat akses UMKM terhadap perbankan, yakni dari sisi skala, formalitas, dan informasi. Sebab, sebenarnya jumlah UMKM otensial sangat banyak,namun kurang akses keuangan. (if)

Sebaliknya perbankan memerlukan informasi tentang UMKM potensial dan kelayakan usahanya.Hal ini menyebabkan rendahnya akses keuangan UMKM kepada perbankan.

link : http://berita.plasa.msn.com/nasional/bisnisindonesia/usaha-kecil-83percent-belum-miliki-akses-ke-perbankan

.Berita Lainnya.
BNI kucurkan kredit buat kepemilikan kios
KREDIT USAHA RAKYAT Telah Tersalurkan Rp24,55 triliun
PERKOPERASIAN: Kemenkop Rilis Pusat Pelayanan Usaha Terpadu UKM
HEADLINE HARI INI: Kondisi industri jadi sorotan
Bapepam Cabut 12 Izin Usaha Jasa Keuangan

Advertisements

Siap-siap, Ini Dia Skema Kredit Usaha Kecil


Plasadana.com – Bank Indonesia (BI) menyiapkan skema pembiayaan bagi para calon pengusaha industri kreatif di daerah, yang disebut sebagai ‘Start Up Credit’.

“Start Up credit dapat menjembati kebutuhan pembiayaan pada saat memulai usaha baru dengan persyaratan yang lebih ringan,” ungkap Pungky P. Wibowo, Deputi Direktur Departemen Pengaturan Perbankan Bank Indonesia di Jakarta, Jumat (29/6/2012).

Start up credit adalah sistem pembiayaan yang di sponsori Bank Indonesia. Program ini ditujukan untuk mendukung ekonomi kreatif di daerah. Untuk Kredit Usaha Rakyat Mikro dan ritel Kredit program dilakukan dengan penjaminan pemerintah. Ada juga yang berupa subsidi bunga seperti kredit program.

“Pembangunan ekonomi membutuhkan dukungan pembiyaan yang cukup besar untuk dapat mencapai target,” ukata Pungky.

Selain itu, lanjut dia, Bank Indonesia akan mempercepat kajian aturan mengenai konsep ekonomi kreatif. “Ekonomi Kreatif menjadi guide principle dulu, untuk dijadikan dukungan,” katanya.

Saat ini, Bank Indoensia sedang menyiapkan kebijakan Financial Identity Number (FIN). Yakni, penyusunan nomor induk keuangan yang mencakup masyarakat yang sama sekali belum pernah berhubungan dengan bank (Strictly unbanked people), masyarakat yang pernah terhubung (Partially unbanked) maupun masyarakat yang sudah terhubung (Fully banked).

link :http://berita.plasa.msn.com/bisnis/plasadana/siap-siap-ini-dia-skema-kredit-usaha-kecil-1

Mantapnya Cabai Tasikmalaya


Ladang Kebun Cabai & Kegiatan Klaster Cabai KPwBI Tasikmalaya

Ladang Kebun Cabai & Kegiatan Klaster Cabai KPwBI Tasikmalaya

Cabai Tasik memang tidak sepedas cabai rawit. Namun bentuknya yang spesial, merah besar dan tahan lama menjadi daya tarik tersendiri. Perusahan besar sekelas PT Heinz ABC pun menjadikan Tasik dan sekitarnya sebagai sentra Jawa Barat untuk komonitas cabai. Begitu yakin nya mereka, sehingga rela menempatkan karyawannya untuk mendampingi petani-petani cabai tersebut sampai ke pelosok-pelosok. Dalam banyak kesempatan, perwakilan perusahaan tersebut, Bp Nazihun Nafs, mengatakan salut dengan upaya KPw Bank Indonesia Tasikmalaya dalam memajukan petani cabai melalui klasternya. Bahkan, dalam tayangan TV promosi perusahaan besar mie Instan, kebon cabai petani yang tergabung dalam klaster menjadi bintang iklannya.
Menutup tahun 2012, dilakukan evaluasi realisasi rencana kerja pada Kamis, 13 Desember 2012. Hadir pada kesempatan tersebut 27 orang perwakilan dari Perbankan, Dinas terkait, Kelompok tani serta asosiasi. Satu hal yang menarik dari evaluasi kinerja klaster adalah adanya kenaikan produktivitas dari 15,22 ton/ha menjadi 21,47 ton/ha di Kabupaten Tasikmalaya. Dimana pada saat yang bersamaan luas tanam periode yang sama justru mengalami penurunan dari 1.579 ha menjadi 1.288 ha oleh sebab kemarau panjang. “Hal tersebut terjadi, karena di Kabupaten Tasikmalaya penanaman cabai dilakukan di sawah sehingga sepanjang tahun memperoleh pengairan, sedangkan di Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, cabai ditanam di pegunungan sehingga ketika musim kemarau, petani tidak melakukan penanaman,” terang A. Kosim, wakil ketua pokja klaster.
Dari sisi penyaluran kredit kepada petani cabai, disamping BNI yang telah menyalurkan skim KUR sejumlah Rp3,46 miliar juga terdapat realisasi sejumlah Rp560 juta bagi 11 kelompok tani menggunakan skim KKPE oleh BRI. “Pembiayaan dari BRI ini lebih ringan untuk petani karena bunganya hanya 4%,” jelas Enok Nur Adawiyah, Pendamping UMKM Klaster Cabai.

Menyongsong tahun 2013, klaster menetapkan target 300 ha untuk kerjasama dengan PT Heinz ABC, mengalami peningkatan 100% dari tahun 2012. Target ini diyakini dapat tercapai, karena Perbankan makin tertarik dengan bisnis ini. Selain BNI yang terus memperbesar pangsa pasarnya, BRI juga menyeruak pada akhir tahun. Bank Mandiri saja setelah ikut FGD tersebut langsung menyatakan komitmennya untuk ikut serta. Lain dari itu keseriusan dan keyakinan PT Heinz ABC kepada klaster ini memberi jaminan tersendiri bagi dunia Perbankan dan Petani. Semua itu tak lepas dari pendampingan KPw BI Tasikmalaya. Terakhir dengan PSBI pembuatan screen house untuk penangkar benih. Harapannya adalah klaster ini bisa masuk dari hulu kehilir.

“Program klaster cabai ini harus digarap dengan serius,” ujar Asep Halim yang merupakan ketua pokja sekaligus Ketua Asosiasi Cabai Jawa Barat. Pernyataan ini tentu ada latar belakangnya. Untuk mengelola 1 ha lahan cabai rata-rata dibutuhkan modal Rp60 juta rupiah dengan 35 orang tenaga kerja. Artinya target 300 ha tersebut akan melibatkan perputaran uang sebesar Rp18 milyar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 10.500 orang tenaga kerja. “Potensi yang luar biasa, pantas kalau Perbankan mulai melirik bisnis ini” tutup Sabarudin, Deputi KPw BI Tasikmalaya.

http://www.bi.go.id/web/id/

%d bloggers like this: