Daily Archives: January 21st, 2013

BI: Defisit Transaksi Berjalan Turun Triwulan I


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Defisit neraca transaksi berjalan diperkirakan akan turun di bawah dua persen pada triwulan I (satu) 2013. Demikian perkiraan yang disampaikan Direktur Eksekutif Departemen Riset dan Kebijakan Ekonomi BI Perry Warjiyo.

“Pada triwulan I 2013 kita perkirakan defisit transaksi berjalan itu akan turun di bawah dua persen. Ekspornya sedikit membaik, impornya juga tidak akan setinggi pada triwulan IV (empat) 2012,” kata di Gedung BI, Jakarta, Jumat (18/1).

Impor, menurut dia, memang tidak akan tinggi pada awal tahun. Namun akan tinggi kembali pada triwulan II (dua). “Secara musimannya memang seperti itu. Pada triwulan I impornya tidak akan melaju, nanti akan tinggi di triwulan II, triwulan III agak rendah, dan di triwulan IV meningkat lagi,” beber Perry.

Oleh karena itu, lanjut Perry, BI terus komitmen melakukan stabilisasi rupiah karena meyakini defisit transaksi berjalan tidak setinggi yang dipersepsikan pasar dan justru akan menurun pada triwulan I. “Yang terjadi di pasar itu kan masih melihat angka Oktober-November, yang migasnya masih defisit,” katanya.

Perry mengatakan, apa yang terjadi di pasar merupakan over ekspektasi terhadap kondisi di neraca transaksi berjalan. “Kita kan melihatnya tidak hanya kuartal keempat tetapi juga outlooknya untuk 2013 khususnya di kuartal satu,” ujar Perry.

Namun, Perry mengakui untuk triwulan IV/2012 memang defisit transaksi berjalannya lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya yakni 2,4 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto).

Advertisements

BI Prediksi Inflasi Januari 0,9 Persen


Jakarta (ANTARA) – Bank Indonesia memprediksi besaran inflasi pada Januari 2013 sebesar 0,9 persen.

“Inflasi pada Januari ini lebih tinggi pada Desember, secara musiman memang biasanya inflasi Januari itu lebih tinggi. Semoga tidak lebih dari satu persen, perkiraan kami inflasi sekitar 0,9 %,” kata Direktur Eksekutif Departemen Riset dan Kebijakan Ekonomi BI Perry Warjiyo di Gedung BI, Jakarta, Jumat.

Perry mengatakan, besaran inflasi tersebut disebabkan naiknya kondisi sejumlah komoditas pada Januari.

“Beberapa komoditas di Januari ini memang ada indikasi harganya akan lebih tinggi dari bulan yang lalu seperti beras, misalnya, ada kenaikan tapi sepertinya tidak terlalu tinggi. Bumbu-bumbuan juga mungkin ada kenaikan namun juga tidak terlalu tinggi. Yang tinggi kenaikannya seperti daging ayam,” ujar Perry.

Menanggapi dampak banjir yang terjadi di Jakarta, Perry mengatakan memang mengganggu kelancaran distribusi barang dan jasa, namun untuk pasokan barang nisbi masih cukup.

“Memang karena kondisi cuaca yang mengakibatkan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah, tidak hanya di Jakarta, mengganggu distribusi barang dan jasa. Namun sebenarnya kalau untuk pasokan barang masih cukup,” ujarnya.

Perry juga menambahkan, banjir tidak akan mengakibatkan ekspektasi inflasi karena sifatnya sesaat.

“Sejauh ini banjir tidak akan menimbulkan dampak ekspektasi inflasi. Karena kalau ekspektasi inflasi itu kan terus menerus, ini kan hanya dampak sesaat di Januari karena ketidaklancaran distribusi barang akibat faktor cuaca,” tuturnya.

Tekanan inflasi memang akan naik dari Desember 2012 akibat curah hujan yang tinggi, namun akan menurun pada Februari lalu mulai rendah pada Maret, April, Mei karena biasanya musim panen dan berlangsung hingga Juli.

“Pada Juli mungkin agak sedikit naik karena ada uang sekolah, jadi secara musimannya tekanan inflasi itu begitu,” kata Perry.

Namun secara keseluruhan, lanjut dia, BI meyakini inflasi hingga akhir tahun tidak lebih dari 5 %.

Perlu Kebijakan Sektor Riil Atasi Depresiasi Rupiah


http://berita.plasa.msn.com/bisnis/antara/perlu-kebijakan-sektor-riil-atasi-depresiasi-rupiah
Jakarta (ANTARA) – Ekonom Mandiri Sekuritas Destry Damayanti menilai pemerintah harus mengeluarkan suatu kebijakan sektor riil seperti penyesuaian harga atau pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mengatasi depresiasi rupiah.

Harus ada suatu kebijakan di sektor riil dan pemerintah harus melakukan langkah konkrit bukan Bank Indonesia saja, apakah mau menaikkan harga BBM atau melakukan pembatasan yang bisa dimplementasikan karena semua itu membuat pasar menjadi berhati-hati.

“Kalau kondisi ini dibiarkan akan berbahaya, rupiah bisa terus tertekan, karena sekarang investor di porfolio sudah mulai keluar, sebelumnya mereka masih aman-aman saja,” kata Destry Damayanti saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Menurut Destry, neraca perdagangan defisit mengakibatkan transaksi berjalan defisitnya semakin melebar, karena biasanya defisit di sektor jasa, pendapatan dan sebagainya itu bisa diatasi dengan surplus neraca perdagangan.

“Namun, dengan perkembangan nilai komoditas saat ini, sepertinya susah mengharapkan surplus di neraca perdagangan karena ekspor kita masih melambat sedangkan impor dan kebutuhan investasi semakin tinggi,” ujarnya.

Selain itu diperburuk lagi dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara khususnya yang berkaitan dengan subsidi BBM.

“Diperkirakan akan menembus target yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu subsidi energi sekitar Rp250 triliun. Apalagi belum ada suatu kebijakan yang solid berkaitan dengan BBM bersubsidi tersebut. Jadi akhirnya diperkirakan akan semakin menekan neraca perdagangan kita” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan neraca perdagangan Indonesia di sektor gas tidak bagus, karena harus mengimpor banyak dari luar karena gas di domestik tidak bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri.

“Kebanyakan gas kita ekspor dan sudah terikat dengan kontrak dan sebagainya,” ujarnya.

Berbagai permasalahan tersebut menciptakan sentimen negatif ke pasar Selain itur, karena di satu sisi yang diandalkan oleh Indonesia yaitu kebijakan moneter seperti intervensi maupun kebijakan suku bunga.

“Tapi kita tahu BI intervensi juga melihat kalau ini masalahnya fundamental buat apa intervensi besar-besaran karena cadangan devisa akan semakin menipis. Kemudian kalau ada kebijakan menaikkan suku bunga, itu juga tidak terlalu bagus karena di satu sisi kita mengharapkan stimulus dari pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya.

Sementara itu, nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa pagi bergerak melemah nilainya sebesar 60 poin menjadi Rp9.810 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.750 per dolar AS.

Sebelumnya, Bank Indonesia menilai nilai tukar rupiah saat ini bergerak sedikit di luar proporsi sehingga diperlukan langkah-langkah kebijakan untuk mengendalikannya.

“BI telah mengamati nilai tukar rupiah ini sedikit bergerak agak di luar proporsinya dan kita sudah merumuskan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengendalikan sehingga kembali ke proporsinya,” kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Jumat lalu.

Namun, Darmin enggan menyebutkan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengendalikan nilai tukar rupiah tersebut.

“Pokoknya BI sudah merumuskan langkah-langkah pengendaliannya. Ini kan hanya kebijakan persoalan pengendalian pasar,” ujar Darmin.(rr)

%d bloggers like this: