Ekonom: BI Harus Intervensi Signifikan Atasi Pelemahan Rupiah


http://berita.plasa.msn.com/bisnis/antara/ekonom-bi-harus-intervensi-signifikan-atasi-pelemahan-rupiah
Jakarta (ANTARA) – Ekonom dari Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, menilai Bank Indonesia harus memberikan intervensi yang signifikan untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini.

“Level sekarang sebetulnya lebih banyak karena tekanan psikologis. Penjagaan dari Bank Indonesia menentukan level nilai tukar Rupiah. Tanpa pengawalan kuat dari Bank Indonesia, nilai tukar Rupiah secara teknis melemah,” kata Lana Soelistianingsih saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, level Rupiah yang menguat tajam secara psikologis membuat orang kembali tenang karena rupiah rawan terhadap tekanan psikologis,” kata dia.

Ia menjelaskan kalau memang orang-orang yang memegang dolar AS tidak percaya bahwa BI akan mampu terus menerus menjaga Rupiah, maka harus ada intervensi besar.

“Jadi misalnya sekarang levelnya 9.800. Kalau BI kuat menahan, pemain valas melihat 9.800 itu sudah was-was karena bisa naik ke atas berdasarkan pengalaman sebelumnya dari 9.800 langsung ke 10.200,” kata dia.

Sekarang persoalannya, lanjut dia, bagaimana mengembalikan tingkat keyakinan pelaku valas tersebut bahwa BI bisa membawa rupiah menguat kembali secara signifikan ke 9.700.

“Namun, kalau misalnya pemain valas tidak percaya bahwa BI bisa membawa rupiah ke 9.700 maka akan terus mendorong hingga melesat di atas 10.000 seperti yang diyakininya. Lalu, ia baru mau menjual dolar AS di pasar. Artinya dolar AS bertambah sehingga Rupiah menguat dengan sendirinya.

Meskipun demikian, kata dia, hal tersebut terlalu berisiko karena membiarkan Rupiah melesat pada level yang tinggi sehingga akan berdampak lebih jauh ke depan.

“Jadi memang ini level yang sulit karena berada di level spikologis. Lain kalau kondisinya normal, misalnya lagi di 9.500-9.600 itu bisa diatasi dengan kebijakan likuiditas Rupiah dikurangi, bukan menambah valas,” ujar dia.

Menurut dia, posisi cadangan devisa Indonesia yang pada 2012 naik 2,41 persen dari tahun sebelumnya menjadi 112,8 miliar dolar AS dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah.

“Naiknya posisi cadangan devisa berpotensi membawa nilai tukar rupiah menguat,” kata dia.

Kedua, lanjutnya, untuk mengatasi pelemahan rupiah dengan mengurangi impor. Impor yang bisa dikurangi adalah yang berasal dari pemerintah.

“Pemerintah bisa mengendalikan impor karena sebagian dari pengeluarannya adalah impor seperti belanja subsidi BBM. Sedangkan dari pihak swasta pemerintah tidak bisa melarangnya untuk mengimpor,” kata dia.

Kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS melanjutkan penguatan pada Selasa sore sebesar 50 poin menyusul optimisme lelang Surat Berharga Negara (SBN) terserap.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta pada Selasa sore bergerak menguat sebesar 50 poin menjadi Rp9.700 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.750 per dolar AS. (ar)

%d bloggers like this: