Gubernur BI: Kita Akan Tahan Rupiah di Rp9.400


Gubernur

http://berita.plasa.msn.com/bisnis/okezone/gubernur-bi-kita-akan-tahan-rupiah-di-rp9400

MEDAN – Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengaku, nilai tukar rupiah yang sudah berada pada level Rp9.700 per USD cukup mengkhawatirkan. Oleh karena itu pihaknya akan menyiapkan sejumlah instrumen perekonomian, untuk menekan nilai tukar di level ke Rp9.400-Rp9.600.

Menurut Darmin, BI harus menjadikan posisi nilai tukar rupiah ini sebagai prioritas utama. Pasalnya nilai tukar merupakan fundamental dalam kegiatan perekonomian secara menyeluruh. Di mana jika pelemahan terus dibiarkan, maka krisis ekonomi berkepanjangan sangat mungkin terjadi.

Penanganan pelemahan nilai tukar rupiah ini, menurut Darmin juga cukup mendesak, sebab sudah menimbulkan kerugian bagi importir. Khususnya di Sumut, daerah yang mengandalkan kegiatan ekspor impor ini tentu sangat tergantung pada nilai tukar rupiah.

“Pelemahan ini sangat berlebihan. Kemarin kan sempat Rp9.800 tapi ternyata turun terus. Kita akan tahan di Rp9.400. Saya pikir cukup realistis. Ini sudah mengganggu. Apalagi bagi importir, tentu rugi kalau nilai tukar rupiah melemah, kalau eksportir memang melihat ini secara positif. Tapi kita tetap akan seimbangkan, sehingga tidak ada yang terlalu rugi atau untung besar,” jelasnya pada pelantikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IX Sumut dan Aceh Hari Utomo di Medan, Jumat (18/1/2013).

Dalam upaya menekan nilai tukar ini, Darmin mengaku, BI akan melakukan dua hal. Pertama, BI dengan segala instrumen perekonomian yang dimilikinya, akan mengurangi peredaran uang di masyarakat. Selanjutnya, BI berkoordinasi dengan pemerintah daerah, untuk dapat menghambat laju inflasi.

“Caranya, kita akan tarik dana masyarakat ke perbankan. Kita punya instrumennya. Kita harap prosesnya nanti tidak terlalu sulit. Akhir tahun lalu, untuk mengejar pelaksanaan APBN, kita mengeluarkan uang sampai Rp120 triliun. Sekarang akan kita tarik lagi, nanti kalau dibutuhkan, kita kembali keluarkan. Penarikan uang ini juga akan kita integrasikan dengan upaya menekan inflasi. Jadi inflasi merupakan penanganan dari arah suplai, sedangkan pengendalian uang dilakukan dari arah demand. Tentunya kita akan melibatkan pemerintah daerah,” terangnya.

Upaya yang akan dilakukan BI adalah menjaga peredaran uang agar tidak berlebihan berada di tengah masyarakat. Caranya dengan menarik uang di tengah masyarakat, begitu juga sebaliknya. Seperti pada akhir tahun, pemerintah mengeluarkan uang untuk mengejar pelaksanaan APBN lebih dari Rp120 triliun dalam sebulan.

Jumlah tersebut akan ditarik perlahan dengan menggunakan instrumen-instrumen yang ada dan saat diperlukan, akan kembali disalurkan kepada masyarakat. “Apabila uang dibiarkan di tengah masyarakat pasti tidak akan terkendali. Jadi sebagian besar uang beredar akan di tarik dulu dengan instrumen-instrumen yang ada,” jelasnya.

Pengendalian uang dan inflasi selama ini menjadi penyokong utama stabilitas perekonomian Indonesia. BI sepertinya belajar dari krisis yang terjadi pada 1998 lalu, di mana nilai tukar mencapai lebih dari Rp20 ribu per USD dengan tingkat inflasi yang mencapai double digit.

%d bloggers like this: