Daily Archives: February 14th, 2013

BI Sempurnakan Suku Bunga Referensi JIBOR


Jakarta (ANTARA) – Bank Indonesia melakukan penyempurnaan suku bunga referensi di pasar uang “Jakarta Interbank Offered Rate” yang mulai berlaku 11 Februari 2013.

Keterangan Departemen Pengelolaan Moneter BI melalui laman resmi BI di Jakarta, Selasa, menyebutkan JIBOR merupakan suku bunga indikasi penawaran dalam transaksi pasar uang antarbank (PUAB) di Indonesia.

Yang dimaksud dengan suku bunga indikasi penawaran adalah suku bunga pada transaksi “unsecured loan” antarbank yang mencerminkan suku bunga pinjaman yang ditawarkan suatu bank kepada bank lain sekaligus, dan suku bunga pinjaman yang bersedia diterima suatu bank dari bank lain.

JIBOR terdiri atas dua mata uang yakni rupiah dan dolar Amerika Serikat, dengan masing-masing terdiri dari enam tenor yakni satu hari, satu minggu, satu bulan, tiga bulan, enam bulan dan 12 bulan.

Penyempurnaan tersebut terdiri dari perubahan bank kontributor JIBOR, perubahan batas waktu penyampaian koreksi laporan dari pukul 11.00 WIB menjadi pukul 10.45 WIB, dan perubahan metode penghitungan JIBOR.

BI berharap melalui penyempurnaan yang berkesinambungan, JIBOR dapat lebih berperan terhadap pendalaman pasar keuangan domestik, stabilitas sistem keuangan dan peningkatan efektivitas kebijakan moneter.

Informasi data JIBOR yang semula hanya dapat diakses melalui terminal Sistem Laporan Harian Bank Umum (LHBU) BI, Thomson Reuters dan Bloomberg, kini diperluas publikasinya melalui website/laman BI.

JIBOR diharapkan dapat menjadi suku bunga acuan yang kredibel dan digunakan pada banyak transaksi keuangan di Indonesia sehingga mendorong pendalaman pasar keuangan domestik karena akan mendorong pengembangan PUAB terutama untuk transaksi dengan tenor di atas satu bulan yang saat ini transaksinya sangat kecil dan tidak memiliki “benchmark” suku bunga.

Selain itu akan mendorong pelaku pasar untuk menciptakan instrumen pasar uang lain yang berbasis suku bunga, menciptakan “benchmark” suku bunga bagi transaksi derivatif dan transaksi yang berbasis suku bunga mengambang.

Selain itu juga akan membantu bank dalam menentukan suku bunga pinjaman dan deposito bagi nasabah, dan membantu pembentukan “benchmark” untuk pasar obligasi.

Sebelumnya pada 7 Februari 2011, BI melakukan penyempurnaan JIBOR. Misalnya untuk metode perhitungan JIBOR, sebelum penyempurnaan 7 Februari 2011 adalah nilai rata-rata dari seluruh kuotasi yang masuk.

Mulai 7 Februari 2011 disempurnakan menjadi niali rata-rata setelah mengeluarkan satu data tertinggi dan satu data terendah dari seluruh kuotasi yang masuk.

Mulai 11 Februari 2013, metode perhitungan yang dipakai adalah nilai rata-rata setelah mengeluarkan 25 persen data tertinggi dan 25 persen data terendah dari kuotasi yang masuk.

Advertisements

LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan


Jakarta (ANTARA) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan suku bunga penjaminan periode 15 Februari hingga 14 Mei 2013 sama dengan periode sebelumnya karena masih sejalan dengan kondisi perekonomian dan perbankan.

“LPS memandang tingkat bunga saat ini masih sejalan dengan kondisi perekonomian dan perbankan, ” kata Pejabat Sementara Direktur Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS, Noor Cahyo dalam siaran pers LPS di Jakarta, Kamis.

LPS mempertahankan suku bunga penjaminan dana masyarakat di bank umum dalam rupiah sebesar 5,5 persen sementara untuk simpanan dalam valuta asing sebesar 1,0 persen.

Demikian juga dengan suku bunga penjaminan atas simpanan masyarakat di bank perkreditan rakyat (BPR) juga tetap sebesar 8,0 persen.

Menurut Noor Cahyo, penetapan tingkat bunga penjaminan simpanan itu memperhatikan sejumlah pertimbangan, yaitu kinerja perekonomian domestik yang masih berada dalam kondisi yang relatif stabil.

Kondisi tersebut terlihat dari realisasi inflasi secara year on year sebesar 4,57%. Realisasi itu masih berada pada rentang target Bank Indonesia.

Selain itu, kondisi likuiditas perbankan yang masih cukup tinggi yang dapat dilihat dari pergerakan suku bunga referensi JIBOR bertenor pendek pada Januari 2013, menurun cukup signifikan dalam kisaran lima hingga 18 basis poin. Suku bunga JIBOR satu minggu turun dari 4,48 persen menjadi 4,3 persen.

Biaya dana rata-rata tertimbang perbankan juga menunjukkan tren menurun dari 4,02 persen pada November 2012 menjadi 4,0 persen pada bulan berikutnya.

Sesuai ketentuan LPS, apabila tingkat bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dan nasabah penyimpan melebihi tingkat bunga, maka simpanan tersebut menjadi tidak dijamin.

Neraca Pembayaran 2012 Surplus


2C264832474CD5C2F4DF5D294A0E
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan pada 2012 mengalami surplus 0,2 miliar dolar AS. Meski demikian, nilai surplus itu menyusut hingga 90 persen dibandingkan 11,85 miliar dolar AS pada 2011.

Khusus NPI kuartal IV 2012, surplus yang dicatatkan mencapai 3,2 milir dolar AS. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 0,8 miliar dolar AS pada kuartal sebelumnya. Perbaikan kinerja NPI terjadi karena surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat lebih besar dibandingkan kenaikan defisit transaksi berjalan. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan transaksi modal dan finansial pada kuartal IV 2012 mengalami surplus hingga 11,4 miliar dolar AS.

“Jumlah ini hampir dua kali lipat dari kuartal sebelumnya. Artinya, kepercayaan investor sangat baik,” kata Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Kemasyarakatan BI, Difi A Johansyah, di Jakarta, Rabu (13/2).

Kenaikan surplus ini antara lain bersumber dari meningkatnya arus masuk investasi portofolio asing dalam bentuk pembelian surat berharga negara, baik berdenominasi rupiah maupun valuta asing. Arus masuk juga terjadi dalam bentuk penarikan dana milik perbankan domestik yang disimpan di luar negeri.

Ini merupakan respon terhadap meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Selain itu, investasi langsung asing (PMA) masih mengalir masuk dalam jumlah yang hampir sama dengan triwulan sebelumnya.

Ekonom Bank Danamon Dian Ayu Yustina mengatakan transaksi modal dan finansial yang surplus membuat pasar tak khawatir dengan perekonomian Indonesia. Meski demikian, defisit transaksi berjalan pada periode tersebut masih saja tinggi, bahkan meningkat dari kuartal sebelumnya.

“Namun impor yang tinggi itu juga karena impor BBM dan barang modal yang digunakan untuk produksi di dalam negeri,” kata Dian kepada ROL.

Defisit transaksi berjalan kuartal IV 2012 mencapai 7,8 miliar dolar AS. Angka ini minus 3,6 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB), dan lebih tinggi dibandingkan defisit 5,3 miliar dolar AS atau minus 2,4 persen pada kuartal III 2012. Kesenjangan antara neraca migas dan neraca non migas semakin jauh. Apalagi, kenaikan ekspor tak bisa mengimbangi kenaikan impor untuk konsumsi BBM.

Dian mengatakan ke depannya, defisit transaksi berjalan akan semakin membaik. “Jika pada 2012 minus 2,7 persen dari PDB, maka ekspektasi kami untuk 2013 hanya minus 1,8 hingga dua persen,” katanya. Dian melihat dari sisi ekonomi global, Cina dan Amerika Serikat semakin stabil dan membaik. Dengan demikian, Indonesia seharusnya bisa lebih banyak mengekspor barang. Meskipun angka impor diperkirakan masih tetap tinggi.

Pemulihan ekspor Indonesia, kata Dian, juga didukung naiknya harga komoditas. Ini sudah diawali dengan kenaikan harga minyak. Harga minyak jenis Brent saat ini mencapai 117 dolar AS per barel. Ini akan mendorong kenaikan harga komoditas lainnya.

%d bloggers like this: