Monthly Archives: February, 2013

KINERJA GUBERNUR BI: Darmin Dinilai Sukses Kawal Ekonomi Makro


JAKARTA–Industri perbankan mengapresiasi kinerja Darmin Nasution sebagai Gubernur Bank Indonesia yang dianggap sukses mengawal ekonomi makro dan perbankan.

Destry Damayanti, ekonom Bank Mandiri, mengatakan Darmin terkenal konsisten terhadap kebijakannya dan memiliki pengetahuan bidang moneter dan fiskal.

“Pak Darmin sosok yang pas karena mengetahui makroekonomi, dengan pengalaman di bidang moneter dan fiskal. Darmin juga punya pengalaman sebagai Dirjen Pajak,” katanya, Rabu (20/2).

Menurutnya, Darmin merupakan sosok sitematis dalam mengambil kebijakan, dan cenderung bersifat kukuh.

Meskipun demikian, Destry mengakui ada beberapa kebijakan Bank Indonesia yang sempat membuat pasar menjadi panik, seperti keputusan menurunkan suku bunga acuan pada tahun lalu.

BI, lanjutnya, berani memangkas BI Rate di tengah tingginya ekspektasi kenaikan inflasi.

“Ternyata BI benar, kondisi di luar negeri tambah buruk. Bank sentral beranggapan dengan memangkas suku bunga akan membuat penyaluran kredit tetap tumbuh,” ujarnya.

Dia mengatakan kebijakan lain yang sempat direspons negatif pasar ialah penghapusan penempatan dana pada surat berharga dalam jangka pendek.

Kemudian, aturan mengenai loan to value (LTV) ratio yang mengatur kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor.

“Terkait pencalonan gubernur BI baru, kami perkirakan sosok seperti pak Darmin masih cocok,” katanya. (if)

Advertisements

DEVALUASI YEN: Ancam Neraca Perdagangan Indonesia


JAKARTA—Kebijakan pelonggaran moneter Jepang berisiko mengancam kondisi neraca perdagangan Indonesia.

Pungky Sumadi , Direktur Jasa Keuangan dan BUMN Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas, mengungkapkan kebijakan pelonggaran moneter Jepang menyebabkan pelemahan nilai tukar Yen.

Kebijakan itu, menurutnya, bertujuan untuk mendorong kinerja ekspor Jepang untuk menggerakkan perekonomian Negeri Sakura yang stagnan.

Namun, lanjut Pungky, devaluasi Yen juga berisiko menaikkan harga ekspor Indonesia ke Jepang menjadi lebih mahal sehingga makin menyusahkan eksportir menjual barangnya di tengah permintaan dunia yang masih rendah.

“Kita melihatnya dari sisi hubungan dagang antara Jepang dengan Indonesia. Kalau kita jual barang ke Jepang, jangan-jangan jadinya bisa lebih susah [karena devaluasi Yen],” katanya saat ditemui di Gedung Bappenas, Selasa (19/2).

Di sisi lain, lanjutnya, devaluasi Yen juga berisiko meningkatkan volume impor dari Jepang ke Indonesia. Menurutnya, perbaikan ekonomi Jepang berfokus untuk mendorong kinerja ekspor, bukan impor negeri tersebut. “Neraca perdagangan kita bisa makin jelek.”

BPS menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,63 miliar pada 2012. (if)

BI: Tiga Upaya Pengurangan Defisit Transaksi Berjalan


Jakarta (ANTARA) – Bank Indonesia menyatakan perlu dilakukan tiga upaya untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan yang pada 2012 mencapai 24,18 miliar dolar AS atau 2,7 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto).

“Pengurangan transaksi berjalan harus dilakukan dengan tiga upaya,” kata Direktur Eksekutif Bidang Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Dody Budi Waluyo via pesan singkatnya di Jakarta, Rabu.

Menurut Dody, upaya pertama yakni dengan menekan impor migas khususnya minyak melalui kebijakan BBM domestik.

“Sedangkan upaya selanjutnya dengan mendorong kinerja ekspor baik non migas maupun migas,” ujar Dody.

Upaya ke tiga, dengan melanjutkan kebijakan substitusi impor dalam mengurangi impor. “Secara umum, defisit transaksi berjalan karena naiknya impor migas dan non migas, sejalan dengan kuatnya growth permintaan domestik,” kata Dody.

Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan juga disebabkan oleh melambatnya ekspor non migas, sejalan dengan perekonomian global yang melambat dan harga komoditi dunia yang menurun.

Secara keseluruhan, NPI (Neraca Pembayaran Indonesia) pada 2012 mencatat surplus 165 juta dolar AS. Surplus tersebut terbentuk dari neraca transaksi berjalan yang mencatat defisit 24,18 miliar dolar AS dan neraca transaksi modal dan finansial yang surplus sebesar 24,91 miliar dolar AS.

NPI 2012 tersebut jauh di bawah surplus pada 2011 yang mencapai sebesar 11,9 miliar dolar AS. (ar)

%d bloggers like this: