Monthly Archives: March, 2013

DPRD Jabar Desak Pemprov Proteksi Sentra Bawang


BANDUNG (bisnis-jabar.com)–DPRD Jabar meminta rencana masuknya kuota bawang impor ke Jabar diantisipasi.

Komisi B DPRD Jabar Selly Gantina meminta Pemprov Jabar maupun pusat melindungi atau memproteksi wilayah-wilayah yang menjadi sentra bawang.

“Ini minimal agar bawang impor tidak masuk ke wilayah mereka,”katanya, hari ini.

Menurutnya, menjelang masuknya bawang impor, Pemprov Jabar harus berkoordinasi untuk melakukan pengawasan bersama dengan aparat kepolisian dan masyarakat dalam mengawasi kebijakan tata niaga komoditas bawang dari hulu sampai hilir.

“Apabila terjadi penyimpangan kewenangan dari pihak-pihak lain dengan kuota impor produk hortikultura, maka pemerintah harus dengan tegas mencabut izin usaha mereka. Agar bisa memberikan efek jera,”katanya.

Selly sendiri menduga kenaikan harga bawang merah dan bawang putih serta beberapa komoditas hortikultura lainnya akan menyebabkan kenaikan inflasi.

“Akibat kenaikan harga cabai, pada Februari kemarin inflasinya tertinggi dibandingkan dengan Februari 5 tahun terakhir,” katanya.

Terlebih menurutnya selain bawang ada juga kenaikan dan langkanya daging sapi di pasaran yang akan ikut memberikan andil terhadap naiknya inflasi

Advertisements

Dampak Gejolak Bawang Bagi Produsen Olahan di Tasik


TASIKMALAYA (bisnis-jabar.com) — Mahalnya harga bawang di pasaran membuat produsen olahan berbahan baku bawang kerepotan mensiasati usahanya. Harga jual produksi olahan bawang tidak sebanding dengan harga bahan baku yang melambung tinggi.

Seperti yang dialami pengusaha bawang goreng Enang Heryadi, Pengusaha asal Kampung Lewosari, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya itu terpaksa menutup usahanya sejak beberap minggu yang lalu. Ia sendiri sudah menjalankan usaha tersebut sejak tahun 2004.

“Dalam kondisi normal, harga bawang Rp3.000-4.000/kg saya bisa memproduksi 2,5 hingga 3 kwintal perhari. Sekarang, boro-boro mendapat kualitas bawang bagus, bawang sisa saja sudah mahal. Bahan baku tersebut kalau dipaksakan jelek juga,” ujar Enang di tempat usahanya, akhir pekan lalu.

Sebenarnya, tanda-tanda kemunduran usahanya sudah terasa sejak Desember tahun lalu. Saat itu harga bawang merah sudah menembus angka belasan ribu rupiah per kg-nya. Ia pun mengurangi jumlah produksi. Namun, menginjak bulan Februari 2013, bawang merah segar sudah mencapai Rp20.000/kg. Saat itu ia menyerah dan menutup sementara usahanya sekaligus merumahkan sepuluh pegawainya.

“Kalau tidak tutup, mereka harus tetap saya bayar. Kini masih ada ada enam pegawai yang masih saya upah, mereka yang menjaga kios di pasar Cikurubuk dan dua orang di rumah buat beres-beres,” katanya.

Bapak dua anak itu berharap harga bawang merah dan pasokannya kembali normal. Apalagi empat bulan mendatang akan menghadapi bulan puasa. Biasa di bulan puasa, permintaan banyak dan meraup untung. “Sebagai masyarakat kecil tolong saya berharap harga bawang merah stabil. Niat pemerintah untuk menolong petani saya dukung, tetapi di sisi lain jadi masalah. Makanya cari jalan keluar, tolong kami juga perlu pasokan bawang yang normal,”ucapnya.

Salah seorang pengepul bawang merah Obar ,43, warga Cilingga, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi mengaku usahanya menurun drastis akibat barang langka. Saat normal kata dia, kiriman bawang merah dari Berebes Jawa Timur bisa mencapai 20 ton per hari dengan harga rata-rata Rp12.000 – Rp13.000 per kg yang bisa dijual rata-rata Rp15.000 – Rp16.000 per Kg. Sekarang kata dia, untuk mendatangkan bawang merah sebanyak 5 ton sangat susah.

Untuk saat ini, harga bawang di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya di tingkat eceran perlahan menurun antara Rp45.000 – Rp50.000/kg baik bawang merah maupun bawang putih. Sebelumnya harga bawang merah di pasar Cikurubuk sempat mencapai Rp60.000/kg dan bawang putih mencapai Rp70.000/kg

Dampak Gejolak Harga Bawang


(bisnis-jabar.com)–Ketua perhimpunan pedagang daging ayam Bandung (PPAB), Yoyo Sutarya menilai efek dari mahalnya bawang putih dan merah membuat penjualan daging ayam turun.

“Banyak konsumen mengalihkan menunya pada komoditas lain, yang tidak menggunakan bawang merah dan putih,” katanya Minggu (17/3).

Sutarya mencatat penurunan penjualan daging ayam saat ini sudah mencapai 30-50% setiap harinya. Menurutnya, penurunan ini dibanding kondisi normal sudah terbilang sangat drastis.

Dia mencontohkan dalam kondisi normal atau sebelum kenaikan harga bawang, rata-rata, setiap pedagang mampu menjual sekitar 100 ekor per hari.

Paska kenaikan bawang, penjualan mulai turun. “ Sekarang rata-rata penjualan menjadi 70 ekor per hari ada pula yang 50 ekor per hari,” katanya.

Kondisi ini menurut Yoyo diperparah oleh masih mahalnya harga jual daging ayam pada level pasar tradisional. Saat ini, rata-rata, harga jual daging ayam berada pada level Rp 28-30 ribu per kilogram.

“Beralihnya menu masakan ditambah harga daging ayam yang masih tinggi, jelas, permintaan dan penjualan kian turun,” katanya.

PPAB sendiri meminta pemerintah di semua level untuk segera turun tangan mengatasi persoalan ini

%d bloggers like this: