Daily Archives: March 5th, 2013

Inflasi Maret Bakal Rendah


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Inflasi di bulan Maret diramalkan rendah karena memasuki musim panen. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan inflasi tinggi selama dua bulan ini diperkirakan akibat gangguan cuaca. Cuaca, imbuhnya juga mengganggu produksi dan distribusi.

“Maret ini sudah ada musim panen horti maupun beras, jadi akan ada tambahan paoskan dan berlanjut di April, sehingga ini bisa meredam inflasi,” ujar Bayu, Senin (4/3).

Hanya saja, kata Bayu, Indonesia masih mewaspadai adanya curah hujan yang cukup tinggi di bulan Maret walaupun cenderung lebih ringan dibandingkan bulan Januari maupun Februari. Curah hujan ini berpotensi menghambat distribusi.

Sementara di sisi lain, kata Bayu, proses distribusi kini sudah semakin efisien. Kondisi itu dibuktikan dengan melihat porsi perdagangan skala besar yang semakin kecil. Pada tahun 1990-2011, porsi perdagangan besar mencapai 73,61 persen. Sedangkan, porsi perdagangan eceran hanya 26,39 persen.

Pada tahun 2011, porsi perdagangan besar sudah berkurang menjadi 59,11 persen. Lalu porsi perdagangan eceran naik menjadi 40,89 persen.

Porsi yang semakin besar dari perdagangan eceran ini menunjukkan barang-barang dari sentra produksi sudah bisa langsung didistribusikan melalui ritel, tak lagi melalui grosir atau perdagangan besar. “Dulu dari produsen masuk ke pedagang besar, sekarang dari sentra produksi ke eceran,” katanya.

Meski, imbuh Gita, indikasi itu belum tentu selalu menjadi baik. Alasannya, jika terjadi kenaikan harga di tingkat eceran, pemerintah harus langsung intervensi di sentra produksi, tak lagi melalui pedagang besar atau grosir.

“Misalnya terjadi kenaikan harga beras, pemerintah bisa intervensi di pasar Cipinang dengan menambahkan stok. Sekarang, kalau harga tidak bisa bergerak, kita harus langsung masuk ke sentra-sentra produksi.
Kepentingan untuk intervensi pada kondisi tertentu lebih sulit,” ujarnya.

Advertisements

Inflasi 2013 Dipastikan Tidak Meleset


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah terus mengupayakan agar inflasi pada 2013 tetap berada di titik yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yaitu 4,9 persen. “Itu harus diupayakan dulu,” tutur Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan,Bambang PS Brodjonegoro, kepada wartawan di kantor Kemenkeu, Senin (4/3).

Bambang mengharapkan agar sepuluh bulan ke depan, terjadi inflasi yang rendah atau bahkan deflasi pada bulan-bulan tertentu.

Untuk merealisasikan itu, Bambang menyebut perlu memastikan pasokan bahan pangan pokok dalam negeri terjamin. Syarat itu penting karena selama ini produksi dalam negeri belum memenuhi standar kebutuhan dalam sehingga harga selalu mengalami lonjakan.

Kondisi ini, imbuhnya, sangat menyulitkan mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki pendapatan rentan terhadap inflasi. “Jadi, ini harus diperhatikan,” kata Bambang.

Ia mengatakan seluruh aspek pemicu inflansi kini berada dalam kendali dan pengawasan Kementerian Pertanian (produksi dalam negeri) dan Kementerian Perdagangan (ketersediaan dalam negeri). Kesesuaian langkah dari kedua kementerian mutlak dibutuhkan. “Karena ujung-ujungnya adalah harga.”

Sebagai catatan, inflasi tahun ini hingga Februari 2013 telah mencapai 1,78 persen. Rinciannya inflasi untuk Januari senilai 1,03 persen sementara inflasi untuk Februari tercatat 0,75 persen. Sementara target inflasi yang ditetapkan dalam APBN 2013 mencapai 4,9 persen. Sebagai gambaran, realisasi inflasi pada APBN-P 2012 mencapai 4,3 persen dari target 5,3 persen.

%d bloggers like this: