Monthly Archives: March, 2013

Inflasi tinggi tidak akan berkepanjangan


Pemerintah menyatakan inflasi tinggi pada Februari tidak akan mengganggu asumsi inflasi makro pada tahun ini sebesar 4,9 persen. Tingginya inflasi pada Februari lebih disebabkan oleh faktor musim dan tidak akan berkepanjangan.
Menteri Perencana Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana, mengatakan pemerintah menyadari tingginya inflasi berpengaruh pada angka kemiskinan yang akan meningkat. Maka dari itu penjagaan aspek inflasi menjadi fokus perhatian.
“Kita ingin ini bisa ditangani karena kita juga ada target kemiskinan, di mana stabilitas makro harga inflasi itu penting,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/3).
Armida berharap masa panen pada Maret dan April akan menekan angka inflasi di kisaran rendah. Dalam dua bulan lalu, aspek bahan makanan menjadi penyumbang terbesar tingginya angka inflasi.
Selain mengandalkan masa panen yang akan menambah pasokan bahan makanan, Armida melanjutkan pemerintah juga akan memastikan kelancaran arus distribusi barang.
“Ketersediaannya tentu juga harus dijaga supaya tidak ada lonjakan,” tuturnya.

Sumber: Merdeka.com

Advertisements

BRI Gandeng RNI Salurkan Kredit Pangan


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia,Tbk (BRI) menggandeng PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dalam menyalurkan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) tebu dan peternakan sapi potong.

“Potensi untuk pembiayaan tebunya Rp 507 miliar, sementara untuk ternak sapi potongnya Rp 200 miliar,” kata Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali saat penandatanganan kerja sama di Gedung BRI, Jakarta, Kamis (7/3).

Ali mengatakan, dalam penyaluran ke dua jenis kredit tersebut nantinya RNI akan menerapkan pola kemitraan inti plasma. Dalam hal ini, RNI akan berperan sekaligus sebagai off-taker (penjamin pasar) dan avalis (penjamin kredit).

Pembiayaan KKPE tebu yakni untuk komoditas tebu Masa Tanam Tahun (MTT) 2013/2014 dan MTT 2014/2015. Untuk memaksimalkan penyaluran KKPE tebu, terang Ali, BRI akan memanfaatkan jaringan pabrik gula RNI yang berlokasi di beberapa tempat seperti Krebet Baru di Malang, pabrik Rejoagung Baru di Madiun, Madukismo di Yogyakarta, Candi Baru di Sidoarjo, Tersana Baru di Cirebon, Karangsuwung di Cirebon, Sindanglaut di Cirebon, dan Jatitujuh di Indramayu, Majalengka.

Sementara untuk peternakan sapi potong, fokusnya ke wilayah Subang, Jatibarang, Padang (Kerinci). “RNI akan bertindak sebagai off-taker, membeli hasil ternak peternak dengan harga yang sesuai dan yang telah disepakati dengan peternak,” ujar Ali.

RNI juga akan membentuk tim untuk mengembangkan dan melakukan pendampingan teknis kepada peternak terkait budidaya penggemukan sapi potong. Dalam program ini, RNI bekerja sama dengan masyarakat yang berada di sekitar wilayah kerja RNI yakni Subang, Jatibarang, dan Padang. “Masyarakat yang memang merupakan peternak sapi,” kata Ali.

Perusahaan akan menyediakan sebagian lahan di unit kerja RNI untuk dijadikan kandang kolonisasi budidaya sapi potong. Budidaya penggemukan sapi potong oleh peternak dilakukan di kandang kolonisasi milik RNI yang berada di wilayah unit kerja RNI (pabrik gula ataupun perkebunan sawit).

Menanti GBI ‘Ketuk Palu’ Suku Bunga Acuan


JAKARTA – Para Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) dijadwalkan melakukan rapat bulanan hari ini. Dalam rapat bulanan tersebut, BI akan mereview perkembangan ekonomi baik Indonesia maupun global.

Setelah review dilakukan, maka para Dewan Gubernur akan menentukan arah kebijakan moneter. Salah satu kebijakan yang ditetapkan dalam rapat tersebut, adalah terkait suku bunga acuan BI alias BI Rate.

Saat ini, BI Rate masih berada di kisaran 5,75 persen, Dewan Gubernur BI telah menetapkan BI Rate sejak Februari 2011. Alasannya, lantaran ekonomi Indonesia masih stabil, dan inflasi masih terkendali.

Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan Februari sudah mencapai 0,75 persen, sementara untuk inflasi bulanan Januari mencapai 1,03 persen. Dengan demikian dalam dua bulan inflasi tahunan telah mencapai 1,78 persen, padahal tahun ini BI mematok inflasi pada kisaran 4,5 plus-minus satu persen.

Para analis pun berbeda pendapat menyikapi suku bunga acuan BI ini. Vice President Head of Equity Research Danareksa Sekuritas, Chandra Pasaribu memperkirakan BI rate masih akan bertahan pada level 5,75 persen hingga akhir 2013, lantaran prospek pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat.

Sementara Direktur Global Market HSBC Indonesia Ali Setiawan menilai BI harus segera menaikkan suku BI Rate karena inflasi per bulan semakin meningkat. BI pasti telah memiliki standar tersendiri untuk bisa menaikkan dan menurunkan suku bunga acuannya.

Sedangkan menurut Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada para pelaku pasar akan menunggu (wait and see) pertemuan internal bank sentral, baik dari BI, Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ), Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

%d bloggers like this: