INDEF: Ekonomi RI Hanya Tumbuh 6,2% di Kuartal I


Institute for Development Economics and Finance (INDEF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I 2013 mencapai 6,2%, di bawah perkirakan sebelumnya 6,3%-6,5%. Lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan neraca perdagangan RI yang terus mengalami defisit.

Berdasarkan catatan INDEF, pada 2012 perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 1,63 miliar, padahal pada 2011 masih surplus US$ 26,1 miliar. Bahkan baru menginjak dua bulan pertama tahun ini, neraca perdagangan Indonesia sudah defisit US$ 400 juta.

“Komoditas primer yang menjadi tulang punggung ekspor, harganya menurun. Ditambah lagi dengan penurunan permintaan dunia. Sementara dari sisi impor, ketergantungan terutama di industri kita, barang modal dan bahan baku penolong,” kata ekonom junior INDEF, Eko Listiyanto, Selasa (9/4/2013).

Secara fundamental, membengkaknya tekanan defisit neraca perdagangan lebih disebabkan lemahnya kebijakan pengendalian impor, baik impor migas maupun nonn migas.

“Impor minyak olahan bergitu besar. Implikasinya menyebabkan tergerusnya devisa, rupiah banyak keluar, menyebabkan nilai tukar tertekan. Target pertumbuhan ekonomi 6,8% yang ditentukan pemerintah sudah mulai direvisi,” lanjut Eko.

Persoalan kedua, adalah defisit primer. Eko menjelaskan defisit primer terjadi ketika pendapatan negara dibanding belanja di luar utang, mengalami defisit. “Pada 2012, defisit primer sudah mencapai US$ 45,5 triliun. Jika tidak segera diupayakan ini akan membengkak,” tuturnya.

Eko menegaskan seharusnya jika pemerintah mengambil kebijakan defisit anggaran, pembiayaan yang dipakai haruslah produktif. Alih-alih berdampak terhadap kesehatan fiskal dan meningkatnya stimulus fiskal, justru berdampak pada defisit keseimbangan primer.

“Pada 2012 terjadi pembengkakan di energi dari 40 juta kiloliter (kl), menjadi 46 juta kl, implikasinya adalah belanja di luar kendali,” lanjut Eko.

Terakhir, pertumbuhan ekonomi 6,8% sulit dicapai, melihat inflasi yang tinggi Januari-Maret 2013, mencapai 2,41%. Pada periode yang sama 2011, hanya 0,88%. Menurut catatan INDEF, inflasi Maret 2013 merupakan inflasi tertinggi lima tahun terakhir di periode yang sama. Sementara itu, inflasi Februari lalu mencetak rekor, sebagai inflasi tertinggi sepanjang 10 tahun terakhir di periode yang sama.

“Ada anomali sebenarnya untuk Maret, karena periode sama tahun-tahun sebelumnya selalu menurun,” jelasnya.

Melihat tren prestasi inflasi demikian, ada kekhawatiran target inflasi pada tahun ini yang diharapkan hanya menyentuh 4,9%, bisa jebol sampai 5,5%. Penyumbang utamanya diprediksikan dari kelompok makanan jadi dan listrik.

INDEF berharap evaluasi ini bisa menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentukan kebijakan, dan bukan sekadar informasi yang bikin panas kuping. “Kami harap kritik itu disambut. Data yang kita sampaikan itu kan data pemerintah sendiri. Tapi, nyatanya, kritik kami tahun lalu tidak pernah ditanggapi serius,” tegas Direktur INDEF, Enny Sri Hartati. (Est/Ndw)

%d bloggers like this: