Daily Archives: April 10th, 2013

INDEF: Ekonomi RI Hanya Tumbuh 6,2% di Kuartal I


Institute for Development Economics and Finance (INDEF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I 2013 mencapai 6,2%, di bawah perkirakan sebelumnya 6,3%-6,5%. Lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan neraca perdagangan RI yang terus mengalami defisit.

Berdasarkan catatan INDEF, pada 2012 perdagangan mengalami defisit sebesar US$ 1,63 miliar, padahal pada 2011 masih surplus US$ 26,1 miliar. Bahkan baru menginjak dua bulan pertama tahun ini, neraca perdagangan Indonesia sudah defisit US$ 400 juta.

“Komoditas primer yang menjadi tulang punggung ekspor, harganya menurun. Ditambah lagi dengan penurunan permintaan dunia. Sementara dari sisi impor, ketergantungan terutama di industri kita, barang modal dan bahan baku penolong,” kata ekonom junior INDEF, Eko Listiyanto, Selasa (9/4/2013).

Secara fundamental, membengkaknya tekanan defisit neraca perdagangan lebih disebabkan lemahnya kebijakan pengendalian impor, baik impor migas maupun nonn migas.

“Impor minyak olahan bergitu besar. Implikasinya menyebabkan tergerusnya devisa, rupiah banyak keluar, menyebabkan nilai tukar tertekan. Target pertumbuhan ekonomi 6,8% yang ditentukan pemerintah sudah mulai direvisi,” lanjut Eko.

Persoalan kedua, adalah defisit primer. Eko menjelaskan defisit primer terjadi ketika pendapatan negara dibanding belanja di luar utang, mengalami defisit. “Pada 2012, defisit primer sudah mencapai US$ 45,5 triliun. Jika tidak segera diupayakan ini akan membengkak,” tuturnya.

Eko menegaskan seharusnya jika pemerintah mengambil kebijakan defisit anggaran, pembiayaan yang dipakai haruslah produktif. Alih-alih berdampak terhadap kesehatan fiskal dan meningkatnya stimulus fiskal, justru berdampak pada defisit keseimbangan primer.

“Pada 2012 terjadi pembengkakan di energi dari 40 juta kiloliter (kl), menjadi 46 juta kl, implikasinya adalah belanja di luar kendali,” lanjut Eko.

Terakhir, pertumbuhan ekonomi 6,8% sulit dicapai, melihat inflasi yang tinggi Januari-Maret 2013, mencapai 2,41%. Pada periode yang sama 2011, hanya 0,88%. Menurut catatan INDEF, inflasi Maret 2013 merupakan inflasi tertinggi lima tahun terakhir di periode yang sama. Sementara itu, inflasi Februari lalu mencetak rekor, sebagai inflasi tertinggi sepanjang 10 tahun terakhir di periode yang sama.

“Ada anomali sebenarnya untuk Maret, karena periode sama tahun-tahun sebelumnya selalu menurun,” jelasnya.

Melihat tren prestasi inflasi demikian, ada kekhawatiran target inflasi pada tahun ini yang diharapkan hanya menyentuh 4,9%, bisa jebol sampai 5,5%. Penyumbang utamanya diprediksikan dari kelompok makanan jadi dan listrik.

INDEF berharap evaluasi ini bisa menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentukan kebijakan, dan bukan sekadar informasi yang bikin panas kuping. “Kami harap kritik itu disambut. Data yang kita sampaikan itu kan data pemerintah sendiri. Tapi, nyatanya, kritik kami tahun lalu tidak pernah ditanggapi serius,” tegas Direktur INDEF, Enny Sri Hartati. (Est/Ndw)

Advertisements

Ekonomi RI Baru Pulih di Kuartal III


JAKARTA – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi tanah air diperkirakan akan kembali pulih pada Kuartal III-2013, yaitu mengarah pada angka 6,4 persen di akhir tahun 2013 ini.

“Pertumbuhan ekonomi kita baru akan pulih di triwulan ketiga tahun ini. Pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan berkisar di angka 6,4 persen,” ujar Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo usai RDP Panja Suku Bunga dengan Komisi XI di Gedung DPR-RI, Jakarta, Senin (8/4/13).

Perry menegaskan, pertumbuhan ekonomi di 2013 tersebut akan lebih rendah dari perkiraan BI yang sebesar 6,6 persen. “Sementara konklusi (kesimpulan awal) yang dapat kami sampaikan, pertumbuhan ekonomi pada 2013 diperkirakan lebih rendah dari yang kami pikirkan sebelumnya 6,6 persen,” tukasnya.

Sedangkan lemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga triwulan II-2013, menurutnya, masih dipengaruhi oleh pelemahan ekonomi global.

“Dari dalam negeri, faktornya itukan karena pengaruh kenaikan harga pangan dan juga beberapa risiko, seperti kenaikan harga elpiji maupun yang lainnya,” jelas Perry.

Lebih lanjut Perry menambahkan, asumsi makro ekonomi pemerintah yang tertuang pada APBN 2013 berkisar di angka 6,6 persen sampai 6,8 persen. “Saat ini pemerintah mengaku sedang mengkaji untuk soal kemungkinan tidak tercapainya target pertumbuhan ekonomi di tahun ini,” tutup Perry. (wan)

%d bloggers like this: