Daily Archives: July 23rd, 2013

Pengamat: Pemerintah Tidak Mau Susah, Makanya Impor


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peneliti Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Ina Primiana mengkritik tindakan pemerintah yang tidak mau susah dengan mengambil keputuan untuk mengimpor produk hortikultura seperti bawang merah dan cabai rawit.

Ina mengatakan, sebenarnya masalah importasi daging sapi belumlah selesai . Dia menjelaskan, ada pedagang yang menolak menjual daging importasi itu karena pasokan yang dimiliki masih utuh. Permasalahan lainnya yaitu daging impor itu dipertanyakan kehalalannya. Kini persoalan-persoalan itu ditambah dengan mudahnya keputuan pemerintah membuka keran impor cabai dan bawang merah.

“Saya bingung melihat tindakan pemerintah yang melakukan importasi bawang merah dan cabai rawit tetapi tidak memperbaiki kondisi di dalam negeri. Ada apa dengan pertanian kita?” ujarnya saat dihubungi ROL, Senin (22/7).

Dia menegaskan, importasi bisa dilakukan jika produksi produk hortikutura itu memang tidak ada. Namun seharusnya pemerintah bisa belajar dari pengalaman tersebut, dan mengantisipasinya. Sehingga angka impor semakin tahun semakin kecil. Namun faktanya, saat ini nilai impor semakin tahun bertambah besar. “Kalau kata saya, pemerintah tidak mau susah, dan mengambil keputuan dengan mudah. Indonesia kan luas, seharusnya dipersiapkan pemerataan, manajemen stok, dan basis produksinya,” kata Ina.

Dia menambahkan, Indonesia adalah negara yang tidak terlalu kaya, namun mengalami defisit yang terlalu banyak akibat impor. Ina khawatir, efek terburuk jika pemerintah terus-menerus mengimpor dapat membuat Indonesia menjadi ketergantungan. Selain itu, dengan masuknya produk impor dapat membuat mata pencaharian petani produk hortikultura terancam. Hal ini dikarenakan petani harus bersaing dengan produk impor. “Padahal, negara maju seperti Amerika Serikat (AS) saja mengatakan bahwa impor dapat memiskinkan negara,” ujarnya.

Disinggung mengenai impor yang dilakukan karena anomali cuaca, Ina menjelaskan bahwa permasalahan tersebut bisa disiasati seiring dengan perkembangan teknlogi yang semakin maju. Dia mencontohkan negara-negara tropis lain yang mengalami masalah serupa seperti Indonesia yaitu Malaysia, Vietnam, dan Thailand berhasil tetap memproduksi komoditas itu. “Bahkan Vietnam sampai mampu mengekspor cabai rawit dan bawang merah ke Indonesia,”ujarnya

Dia optimis permasalahan itu dapat diselesaikan. Apalagi, dia menambahkan, banyak orang Indonesia yang pandai. “Kita punya ahli (pertanian) dalam manajemen di lapangan seperti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), atau Universitas Padjajaran (Unpad),”katanya. Ina menontohkan, permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan rumah kaca.

Advertisements

Petani: Lebih Baik Subsidi Pupuk dan Pestisida Daripada BLSM


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Petani kentang, Mudasir, mengatakan sebaiknya pemerintah membantu petani dengan memberi subsidi untuk pupuk atau pestisida. Anomali cuaca menyebabkan petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk pemeliharaan tanaman kentang. “Harusnya subsidi yang diberikan petani jangan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), lebih baik subsidi pupuk atau pestisida,” ujarnya ketika dihubungi ROL, Senin (22/7).

Ia mengatakan penyaluran BLSM perlu dipantau. Di daerahnya, tidak semua petani mendapatkan BLSM dan tidak semua petani layak dapat BLSM. Untuk menggarap satu hektare (ha) lahan, dibutuhkan sedikitnya 1,2 ton pupuk. Harga pupuk sekitar Rp 12 ribu per kg. Setelah kenaikan BBM ongkos produksi menjadi sekitar Rp 65 juta per ha.

Selain itu ia juga berharap pemerintah segera memperbaiki infrastruktur agar pengiriman kentang dari sentra produksi lebih lancar. Dengan demikian, petani bisa menghemat bensin sehingga membuat biaya transportasi lebih murah.

Cabai dan Bawang Merah Impor Tiba Via Laut


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan bahwa impor produk hotikultura cabai rawit dan bawang merah akan tiba di Indonesia akhir Juli 2013 atau sebelum Idul Fitri melalui jalur laut.

Gita menjelaskan, akhir-akhir ini terjadi cuaca kemarau yang sangat basah sehingga panen untuk produk-produk pertanian termasuk cabai rawit dan bawang merah tertunda atau gagal di beberapa titik. Hal itu yang memaksa pihaknya untuk melakukan importasi bawang merah dan cabai rawit. “Insya Allah produk cabai rawit dan bawang merah akan tiba sebelum idul fitri melalui jalur laut,” katanya melalui pesan singkat yang diterima ROL, Senin (22/7).

Gita menjelaskan, impor cabai rawit yang dialokasikan selama periode Juli-Desember 2013 sebanyak 9.715 ton. Pengiriman pertama akan datang sekitar 1.000 sampai 1.500 ton sebelum akhir Bulan Juli 2013. Kemudian alokasi impor bawang merah sekira 17 ribu ton dan akan didatangkan sekitar 4 ribu sampai 6 ribu ton di akhir Juli 2013.

Gita berharap peningkatan pasokan ini dapat menstabilkan harga secara cepat sebelum hari raya Idul Fitri. Selain itu apabila cuaca membaik dan ada kerja sama maka dapat membantu stabilisasi harga produk-produk yang sangat dibutuhkan masyarakat.

%d bloggers like this: