Menjelang Akhir Pekan, Rupiah Diprediksi Masih Tertekan


KOMPAS.com – Turunnya angka manufaktur China ke bawah 50 yang berarti terjadi kontraksi ekonomi telah memicu pelemahan di pasar saham Asia. Kenaikan indeks dollar AS sesaat sebelumnya pun memaksa mayoritas nilai tukar di pasar Asia melemah terhadap dollar AS.

Bahkan menurut riset Samuel Sekuritas Indonesia, hasil buruk data China itu juga menular ke pasar AS sampai dini hari tadi. Naiknya data Jobless Claims AS dan turunnya data manufaktur PMI AS juga mendorong pesimisme pertumbuhan AS.

Akan tetapi buruknya perekonomian bisa berarti tapering yang tidak agresif. Indeks dollar AS pun melemah cukup tajam sementara yield US Treasury turun 8,5 basis poin (bps). Di sisi lain euro menguat akibat data manufaktur PMI Uni Eropa yang naik.

Pasar Asia langsung tertekan pagi ini dengan sentimen pelemahan pertumbuhan China tersebut. “Walaupun buruknya data ekonomi AS bisa mendorong sentimen soft-tapering, peran penting Cina bagi ekspor negara-negara di Asia mulai terlihat mendorong pelemahan mata uang terhadap dollar AS,” kata ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta.

Rupiah berpeluang melanjutkan pelemahannya hari ini. Yield SUN berpeluang turun seiring penguatan US Treasury. Pada Senin (27/1/2014) pagi pasar Asia akan merespon data neraca perdagangan Jepang.

%d bloggers like this: