BI Dorong Sektor Riil Nusa Tenggara Barat


Bisnis.com, LOMBOK—Seiring dengan fungsi intermediasi perbankan dalam menggerakan sektor riil, Bank Indonesia (BI) tengah mengembangkan program desa binaan ke arah peningkatan ketahanan pangan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala Perwakilan BI wilayah NTB Bambang Himawan mengatakan sektor informal masih membutuhkan peran dari perbankan, terutama Bank Indonesia guna menggerakan roda perekonomian di luar Pulau Jawa.

“Kami ingin mengembangkan program desa binaan di beberapa tempat, dengan mengaitkannya dengan isu ketahanan pangan. Misalnya Sumbawa Barat, kami ingin buat kluster sapi. Nanti juga, kami akan ke Sumbawa Besar yakni dalam pengadaan air,” ujarnya, Sabtu (18/1/2014).

Saat ini, Bank Indonesia telah mengembangkan desa binaan atau program Desa Mandiri Ekonomi BI di Dusun Bun Mudrak, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Dalam program tersebut, BI telah menyalurkan dana pembinaan sekitar Rp1,17 miliar.

Bambang mengaku program yang telah dilaksanakan a.l sistem pertanian terpadu, pengembangan kerajinan tenun, pengembangan ternak, dan pengembangan makanan khas. Hal positif lainnya adalah sebagian besar warga telah mendapatkan air bersih dengan sumur bor, dan memiliki sarana MCK.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan reformasi pembangunan ditentukan oleh kedua pihak yakni pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun demikian, peran masyarakat terbukti jauh lebih penting.

“DPR juga berperan penting baik di pusat atau daerah. Namun paling penting yakni peran masyarakat. Kalau tidak, implementasi dari program desa binaan tidak akan berjalan dengan baik. Kami sendiri sebenarnya hanya sekedar memfasilitasi,” ujarnya.

Menurutnya, sejak bandara penerbangan baru mulai dibangun, roda perekonomian masyarakat Lombok mulai menggeliat. Dia berharap desa binaan Dusun Bun Mudrak yang akan diserahkan ke pemerintah daerah tersebut dapat berkelanjutan.

Selain itu, dia juga berharap Dusun Bun Mudrak bisa menjadi desa percontohan yang baik bagi desa sekitarnya, baik dari sektor energi, pertenunan maupun peternakan. Alhasil, dusun-dusun tersebut dapat menjadi kebanggan NTB.

Dusun Bun Mudrak adalah nama dusun di bawah pedusunan Dusun Baru yang didiami sekitar 79 kepala keluarga atau 250 orang warga. Dusun ini terletak di jalur by pass Mataram—Bandara International Lombok.

Sebagian besar warga Bun Mudarak adalah petani dan peternak, baik sebagai petani penggarap ataupun buruh tani. Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Sementara itu, kaum perempuan juga memiliki penghasilan tambahan, dengan membuat kain tenun.

Nur Khasanah, ketua kelompok tenun Dusun Bun Mudrak, mengaku adanya binaan dari BI mendorong usaha informal para warga dusun, terutama terkait dengan pemasaran. Dia mengaku tambahan penghasilan dari usaha tenun menjadi sangat menjanjikan.

“Sebelumnya, harga kain tenun kami selalu ditentukan pengumpul. Nah, setelah ada binaan dari BI, sekarang kami yang menentukan harga. Dulu harga kain tenun sutra dijual sekitar Rp750.000, sekarang sudah menjadi Rp3,5 juta,” tuturnya.

Sayang, usaha tenun ini masih menjadi tambahan penghasilan saja, belum menjadi penghasilan utama. Hal tersebut dikarenakan budaya kaum wanita yang lebih memprioritaskan keluarganya, dibandingkan dengan mencari penghasilan tambahan.

%d bloggers like this: