Monthly Archives: March, 2014

Woow….Rupiah/US$ Tembus Rp11.270/US$ Pagi Ini


US $ Vs Rp

http://market.bisnis.com/read/20140317/93/211272/wow….rupiahus-tembus-rp11.270us-pagi-ini

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kian menguat pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/3/2014).

Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, rupiah menguat 0,76% ke level Rp11.270 per dolar AS pada pukul 09.36 WIB.

Pada awal perdagangan, kurs rupiah juga dibuka menguat 0,47% ke Rp11.303 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu Rp11.356 per dolar AS.

Penguatan rupiah pagi ini terjadi saat dolar AS ditransaksikan beragam terhadap mata uang di Asia-Pasifik. Nilai tukar rupiah pun terpantau menguat paling tajam di antara nilai mata uang Asia lainnya.

Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia-Pasifik Senin, 17 Maret 2014

Kurs

Nilai

Perubahan

WIB

$ Australia

0,9

-0,03%

09:37:45

$ Selandia Baru

0,85

-0,01%

09:37:40

Yen

101,51

+0,15%

09:37:14

$Hong Kong

7,76

-0,02%

09:37:19

$Singapura

1,26

+0,01%

09:37:25

$Taiwan

30,32

-0,11%

09:37:30

Won

1.069,65

-0,29%

09:37:19

Peso

44,72

+0,15%

09:36:55

Rupiah

11.270

-0,76%

09:36:46

Rupee

61,19

+0,02%

07:29:59

Yuan

6,15

+0,14%

09:35:42

Ringgit

3,27

-0,04%

09:37:14

Baht

32,2500

-0,09%

09:37:04

Sumber: Bloomberg.

Advertisements

Jokowi Effect Lejitkan IHSG, Apa Tanggapan Praktisi Pasar Modal?


jokowi capres

http://market.bisnis.com/read/20140314/191/210835/jokowi-effect-lejitkan-ihsg-apa-tanggapan-praktisi-pasar-modal

JAKARTA – Pasar modal kembali terapresiasi. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melejit 152,47 poin atau 3,23% ke level 4.878,64 pada perdagangan Jumat (14/3/2014), sementara harga surat utang negara 10 tahun naik 76 basis poin ke level 103,25%.

Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG bergerak pada kisaran 4.676,23 hingga 4.878,64. Hampir semua sektor menguat. Pelemahan hanya terjadi pada sektor pertambangan sebanyak 0,93%.

Sektor yang menguat dipimpin oleh keuangan yakni sebanyak 6,5%, diikuti sektor industri lain-lain (miscellanous) yang naik 5,76%. Sektor industri dasar dan bahan kimia serta sektor  properti, konstruksi, dan real estat menguat 4,2% dan 2,54%.

Sektor infrastruktur juga naik 2,5%, sektor consumer goods menguat 1,35%, sektor pertanian naik 0,7% dan sektor perdagangan dan jasa menguat 0,52%.

Salah satu faktor yang mengerek pergerakan IHSG adalah keputusan partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) memberikan mandat kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan umum tahun ini.

Sebagai informasi, Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, mengumumkan hal tersebut pada pukul 15.00 WIB. Pascapengumuman tersebut, IHSG langsung meroket dari level 4.721 ke 4.878, atau menguat sekitar 157 poin.

William Suryawijaya, analis PT Asjaya Indosurya Securities, mengatakan pencalonan Jokowi sebagai calon presiden pada pemilu kali ini menjadi salah satu faktor pendorong meroketnya IHSG pada perdagangan kemarin.

“Sebenarnya memang sudah uptrend sejak beberapa hari lalu, keputusan Jokowi itu hanya jadi salah satu faktor saja,” katanya, Jumat (14/3/2014).

Dia mengatakan pola kenaikan IHSG sudah dimulai sejak membaiknya defisit neraca perdagangan dan pembayaran serta berbagai indikator ekonomi lainnya yang telah memicu membludaknya aliran dana asing ke pasar modal Indonesia.

Adapun, menurut data PT Bursa Efek Indonesia, total net buy asing pada perdagangan kemarin mencapai Rp7,47 triliun, sementara sepanjang tahun ini, total aliran dana asing di pasar saham mencapai Rp19,4 triliun.

“Saya perkirakan IHSG akan terus bergerak naik dalam posisi uptrend,” katanya.

Amir Dalimunthe, analis PT Danareksa Sekuritas, mengatakan penguatan IHSG, obligasi, dan rupiah pascapencalonan Jokowi sebagai calon presiden mengindikasikan pasar menyambut positif keputusan tersebut.

Menurutnya, dengan adanya pengumuman tersebut, investor asing memiliki kepastian mengenai siapa yang bakal menjadi calon pemimpin Indonesia dalam 5 tahun ke depan serta arah pertumbuhan ekonomi ke depannya.

“Pencalonan ini seharusnya menjadi pertanda bagus termasuk bagi pasar obligasi,” tuturnya.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi negara 10 tahun berhasil ditutup pada level 7,89%, atau turun 1 basis poin dari posisi pada hari sebelumnya 8%.

Reaksi Pasar dan Euforia Jokowi


pers

http://koran.bisnis.com/read/20140317/245/211237/reaksi-pasar-dan-euforia-jokowi

SETELAH beberapa lama bergerak naik perlahan-lahan pascaturbulensi yang disebabkan faktor eksternal—terutama kondisi dan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat—perkembangan pasar saham di Indonesia mengakhiri pekan lalu dengan hentakan mengejutkan.

Menutup perdagangan Jumat (14/3/14), Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia melonjak 152,48 poin atau 3,23% di level 4.878,64. Lonjakan IHSG lebih dari 3% itu dipicu oleh aksi beli investor asing, yang mencetak net buy sebesar Rp7,48 triliun.

Lonjakan di pasar saham juga diikuti oleh pergerakan rupiah yang menguat 0,26% ke level Rp11.356 per US$ pada Jumat pekan lalu. Posisi nilai tukar rupiah itu mengukuhkan sebagai level terkuat sejak awal November 2013.

Para ekonom, pelaku pasar dan analis menyebut perkembangan tersebut sebagai ‘Efek Jokowi’. Ini terjadi karena pada Jumat siang, sekitar pukul 14.45 WIB, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, bersama dengan Sekjen Partai Tjahjo Kumolo, didampingi dengan putri Megawati, Puan Maharani, mengumumkan langkah strategis: memberi mandat kepada Joko Widodo, alias Jokowi, sebagai Calon Presiden 2014.

Mandat Ketua Umum PDIP yang ditulis tangan—yang menekankan orisinalitas dan itentik—dibacakan oleh Puan Maharani. Maka, Gubernur DKI Jakarta itu secara resmi akan mewakili PDI Perjuangan sebagai Calon Presiden pada pemilu 9 Juli mendatang.

Kejutan pada akhir pekan, hanya selang sehari menjelang Deklarasi Pemilu Damai, itu ditanggapi secara positif oleh pelaku pasar, yang ditandai dengan kenaikan indikator harga saham dan penguatan rupiah.

Pasalnya, survei sejumlah pollster politik menyebutkan elektabilitas Jokowi selalu teratas, dengan selisih yang jauh dari urutan nomor dua. Bahkan angkanya cenderung terus naik, tak terlalu terpengaruh oleh bencana banjir di Jakarta pada awal tahun ini.

Bahkan, jauh sebelum pengumuman resmi PDIP tersebut, pelaku pasar juga menyampaikan optimismenya bahwa faktor Jokowi akan sangat penting bagi perkembangan pasar modal Indonesia pada tahun ini dan tahun depan.

Pasar, seperti kita tahu, bergerak atas dasar persepsi. Pergerakan pasar yang positif, tentu dilandasi oleh persepsi yang positif pula, tentu terhadap ekspektasi yang besar atas sosok Jokowi. Padahal, jangankan pemilu presiden, kampanye pemilu legislatif pun baru saja dimulai.

Namun, pasar sudah menunjukkan respons lebih cepat. Seperti halnya sebagian masyarakat yang menanggapi dengan berbagai cara dan sudut pandang atas keputusan Megawati mencalonkan Jokowi tersebut, pasar tampaknya juga mengalami euforia.

Euforia terhadap pencalonan Jokowi bisa saja berbalik arah manakala realitas politik kemudian berkembang sebaliknya. Karena itu, ada baiknya tetap berhati-hati sembari wait and see. Kita tahu, dalam dunia politik apapun bisa saja terjadi. Jokowi bisa mulus dalam pemilihan presiden mendatang, tetapi bisa pula terganjal.

Itu pun juga masih akan banyak faktor yang perlu dicermati, terutama hasil pemilihan umum anggota legislatif pada 9 April mendatang. Apabila pemilu legislatif memberikan hasil maksimal bagi PDIP, bisa jadi jalan Jokowi akan lebih mulus, yang bisa memengaruhi dan mewarnai lebih positif formasi kabinet mendatang. Begitupun relasi antara pemerintah dan parlemen. Ini faktor yang tidak kalah penting, bukan sekadar siapa yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia mendatang.

Maka, harian ini perlu menggarisbawahi dan mengingatkan, euforia Jokowi jangan sampai meninabobokan. Masih panjang jalan bagi rakyat Indonesia untuk mendapatkan yang terbaik dari proses demokrasi melalui pemilu pada tahun ini.

Jika pun Jokowi berhasil mengalahkan kandidat lain seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, dan Wiranto—mereka sudah dideklarasikan sebagai calon presiden dari partai masing-masing—proses memimpin Indonesia untuk menjadi lebih baik, juga tidak mudah.

Sebaliknya, jika nanti Jokowi tidak berhasil memenangi pemilu, seyogianya pula tidak menjadikan sebab bagi ekspektasi yang buruk bagi Indonesia ke depan. Oleh karena itu, seyogianya semua pihak bersikap lebih realistis termasuk di kalangan pelaku pasar dan pelaku bisnis.

Meski ‘Efek Jokowi’ terhadap pasar di perkirakan masih akan berlanjut pada awal pekan ini, tetapi itu tidak akan lama seiring dengan berjalannya waktu.

Bisa jadi, kondisi euforia akan kembali terjadi sesaat setelah pemilu legislatif pada April nanti. Bisa positif, bisa negatif, tergantung siapa yang memenangi pemilu legislatif, dan seberapa besar perolehan suaranya. Kita lihat dan tunggu saja.

 

Source : Bisnis Indonesia (17/3/2014)

%d bloggers like this: