Reaksi Pasar dan Euforia Jokowi


pers

http://koran.bisnis.com/read/20140317/245/211237/reaksi-pasar-dan-euforia-jokowi

SETELAH beberapa lama bergerak naik perlahan-lahan pascaturbulensi yang disebabkan faktor eksternal—terutama kondisi dan kebijakan ekonomi di Amerika Serikat—perkembangan pasar saham di Indonesia mengakhiri pekan lalu dengan hentakan mengejutkan.

Menutup perdagangan Jumat (14/3/14), Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia melonjak 152,48 poin atau 3,23% di level 4.878,64. Lonjakan IHSG lebih dari 3% itu dipicu oleh aksi beli investor asing, yang mencetak net buy sebesar Rp7,48 triliun.

Lonjakan di pasar saham juga diikuti oleh pergerakan rupiah yang menguat 0,26% ke level Rp11.356 per US$ pada Jumat pekan lalu. Posisi nilai tukar rupiah itu mengukuhkan sebagai level terkuat sejak awal November 2013.

Para ekonom, pelaku pasar dan analis menyebut perkembangan tersebut sebagai ‘Efek Jokowi’. Ini terjadi karena pada Jumat siang, sekitar pukul 14.45 WIB, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, bersama dengan Sekjen Partai Tjahjo Kumolo, didampingi dengan putri Megawati, Puan Maharani, mengumumkan langkah strategis: memberi mandat kepada Joko Widodo, alias Jokowi, sebagai Calon Presiden 2014.

Mandat Ketua Umum PDIP yang ditulis tangan—yang menekankan orisinalitas dan itentik—dibacakan oleh Puan Maharani. Maka, Gubernur DKI Jakarta itu secara resmi akan mewakili PDI Perjuangan sebagai Calon Presiden pada pemilu 9 Juli mendatang.

Kejutan pada akhir pekan, hanya selang sehari menjelang Deklarasi Pemilu Damai, itu ditanggapi secara positif oleh pelaku pasar, yang ditandai dengan kenaikan indikator harga saham dan penguatan rupiah.

Pasalnya, survei sejumlah pollster politik menyebutkan elektabilitas Jokowi selalu teratas, dengan selisih yang jauh dari urutan nomor dua. Bahkan angkanya cenderung terus naik, tak terlalu terpengaruh oleh bencana banjir di Jakarta pada awal tahun ini.

Bahkan, jauh sebelum pengumuman resmi PDIP tersebut, pelaku pasar juga menyampaikan optimismenya bahwa faktor Jokowi akan sangat penting bagi perkembangan pasar modal Indonesia pada tahun ini dan tahun depan.

Pasar, seperti kita tahu, bergerak atas dasar persepsi. Pergerakan pasar yang positif, tentu dilandasi oleh persepsi yang positif pula, tentu terhadap ekspektasi yang besar atas sosok Jokowi. Padahal, jangankan pemilu presiden, kampanye pemilu legislatif pun baru saja dimulai.

Namun, pasar sudah menunjukkan respons lebih cepat. Seperti halnya sebagian masyarakat yang menanggapi dengan berbagai cara dan sudut pandang atas keputusan Megawati mencalonkan Jokowi tersebut, pasar tampaknya juga mengalami euforia.

Euforia terhadap pencalonan Jokowi bisa saja berbalik arah manakala realitas politik kemudian berkembang sebaliknya. Karena itu, ada baiknya tetap berhati-hati sembari wait and see. Kita tahu, dalam dunia politik apapun bisa saja terjadi. Jokowi bisa mulus dalam pemilihan presiden mendatang, tetapi bisa pula terganjal.

Itu pun juga masih akan banyak faktor yang perlu dicermati, terutama hasil pemilihan umum anggota legislatif pada 9 April mendatang. Apabila pemilu legislatif memberikan hasil maksimal bagi PDIP, bisa jadi jalan Jokowi akan lebih mulus, yang bisa memengaruhi dan mewarnai lebih positif formasi kabinet mendatang. Begitupun relasi antara pemerintah dan parlemen. Ini faktor yang tidak kalah penting, bukan sekadar siapa yang terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia mendatang.

Maka, harian ini perlu menggarisbawahi dan mengingatkan, euforia Jokowi jangan sampai meninabobokan. Masih panjang jalan bagi rakyat Indonesia untuk mendapatkan yang terbaik dari proses demokrasi melalui pemilu pada tahun ini.

Jika pun Jokowi berhasil mengalahkan kandidat lain seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, dan Wiranto—mereka sudah dideklarasikan sebagai calon presiden dari partai masing-masing—proses memimpin Indonesia untuk menjadi lebih baik, juga tidak mudah.

Sebaliknya, jika nanti Jokowi tidak berhasil memenangi pemilu, seyogianya pula tidak menjadikan sebab bagi ekspektasi yang buruk bagi Indonesia ke depan. Oleh karena itu, seyogianya semua pihak bersikap lebih realistis termasuk di kalangan pelaku pasar dan pelaku bisnis.

Meski ‘Efek Jokowi’ terhadap pasar di perkirakan masih akan berlanjut pada awal pekan ini, tetapi itu tidak akan lama seiring dengan berjalannya waktu.

Bisa jadi, kondisi euforia akan kembali terjadi sesaat setelah pemilu legislatif pada April nanti. Bisa positif, bisa negatif, tergantung siapa yang memenangi pemilu legislatif, dan seberapa besar perolehan suaranya. Kita lihat dan tunggu saja.

 

Source : Bisnis Indonesia (17/3/2014)

%d bloggers like this: