Tag Archives: bawang

Picu Inflasi, Produksi Bawang Bakal Ditingkatkan Kementan


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan akan terus melakukan optimalisasi produksi sejumlah komoditas seperti bawang merah maupun bawang putih untuk menekan laju inflasi.

Namun, untuk komoditas yang didominasi impor seperti bawang putih, impor akan dikurangi secara berkala seiring upaya peningkatan produksi. “Itu akan dilakukan,” tutur Menteri Pertanian Suswono kepada wartawan di kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (3/4).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga konsumen atau inflasi Maret 2013 mencapai 0,63 persen. Komponen pengeluaran bahan makanan bawang merah memiliki andil 0,44 persen, bawang putih 0,20 persen dan cabai rawit 0,05 persen.

Inflasi Maret lebih rendah dibandingkan Februari 2013 yang tercatat 0,75 persen. Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo mengakui inflasi Maret 2013 tak lepas dari gejolak harga bahan makanan terutama bawang merah dan bawang putih.

Hal ini, kata Agus, harus ditindaklanjuti dengan seksama Kementan dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Tujuannya agar inflasi di bulan-bulan selanjutnya dapat lebih rendah dibandingkan Maret 2013.

Terkait bawang putih, Suswono mengakui 90 persen produk yang beredar di Tanah Air adalah produk impor. Untuk mengurangi presentase impor, Kementerian Pertanian telah memiliki peta jalan (road map) untuk meningkatkan produksi bawang putih.

Caranya dengan penambahan luas lahan tanam 1.000 hingga 2 ribu hektare (ha) per tahun. Suswono bercerita, beberapa tahun lalu Indonesia memiliki luas lahan tanam bawang putih setara 20 ribu ha.

Akan tetapi akibat adanya liberalisasi perdagangan yang berujung pada masuknya bawang putih impor, akibatnya produk impor membanjir dengan harga murah. Hal ini yang kemudian menekan petani bawang putih Tanah Air, sehingga sentra bawang putih menurun.

Selain itu, dari sisi harga, produk yang dihasilkan petani lokal lebih mahal dibandingkan produk impor. Hal tersebut tak lepas dari minimnya lahan yang dimiliki oleh petani lokal.

Akibatnya produksi hanya bisa dilakukan dalam skala kecil. Berbeda dengan produk impor yang dihasilkan dari pertanian skala besar. “Ini yang sedang kita kembalikan,” kata Suswono.

Advertisements

DPRD Jabar Desak Pemprov Proteksi Sentra Bawang


BANDUNG (bisnis-jabar.com)–DPRD Jabar meminta rencana masuknya kuota bawang impor ke Jabar diantisipasi.

Komisi B DPRD Jabar Selly Gantina meminta Pemprov Jabar maupun pusat melindungi atau memproteksi wilayah-wilayah yang menjadi sentra bawang.

“Ini minimal agar bawang impor tidak masuk ke wilayah mereka,”katanya, hari ini.

Menurutnya, menjelang masuknya bawang impor, Pemprov Jabar harus berkoordinasi untuk melakukan pengawasan bersama dengan aparat kepolisian dan masyarakat dalam mengawasi kebijakan tata niaga komoditas bawang dari hulu sampai hilir.

“Apabila terjadi penyimpangan kewenangan dari pihak-pihak lain dengan kuota impor produk hortikultura, maka pemerintah harus dengan tegas mencabut izin usaha mereka. Agar bisa memberikan efek jera,”katanya.

Selly sendiri menduga kenaikan harga bawang merah dan bawang putih serta beberapa komoditas hortikultura lainnya akan menyebabkan kenaikan inflasi.

“Akibat kenaikan harga cabai, pada Februari kemarin inflasinya tertinggi dibandingkan dengan Februari 5 tahun terakhir,” katanya.

Terlebih menurutnya selain bawang ada juga kenaikan dan langkanya daging sapi di pasaran yang akan ikut memberikan andil terhadap naiknya inflasi

Dampak Gejolak Bawang Bagi Produsen Olahan di Tasik


TASIKMALAYA (bisnis-jabar.com) — Mahalnya harga bawang di pasaran membuat produsen olahan berbahan baku bawang kerepotan mensiasati usahanya. Harga jual produksi olahan bawang tidak sebanding dengan harga bahan baku yang melambung tinggi.

Seperti yang dialami pengusaha bawang goreng Enang Heryadi, Pengusaha asal Kampung Lewosari, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya itu terpaksa menutup usahanya sejak beberap minggu yang lalu. Ia sendiri sudah menjalankan usaha tersebut sejak tahun 2004.

“Dalam kondisi normal, harga bawang Rp3.000-4.000/kg saya bisa memproduksi 2,5 hingga 3 kwintal perhari. Sekarang, boro-boro mendapat kualitas bawang bagus, bawang sisa saja sudah mahal. Bahan baku tersebut kalau dipaksakan jelek juga,” ujar Enang di tempat usahanya, akhir pekan lalu.

Sebenarnya, tanda-tanda kemunduran usahanya sudah terasa sejak Desember tahun lalu. Saat itu harga bawang merah sudah menembus angka belasan ribu rupiah per kg-nya. Ia pun mengurangi jumlah produksi. Namun, menginjak bulan Februari 2013, bawang merah segar sudah mencapai Rp20.000/kg. Saat itu ia menyerah dan menutup sementara usahanya sekaligus merumahkan sepuluh pegawainya.

“Kalau tidak tutup, mereka harus tetap saya bayar. Kini masih ada ada enam pegawai yang masih saya upah, mereka yang menjaga kios di pasar Cikurubuk dan dua orang di rumah buat beres-beres,” katanya.

Bapak dua anak itu berharap harga bawang merah dan pasokannya kembali normal. Apalagi empat bulan mendatang akan menghadapi bulan puasa. Biasa di bulan puasa, permintaan banyak dan meraup untung. “Sebagai masyarakat kecil tolong saya berharap harga bawang merah stabil. Niat pemerintah untuk menolong petani saya dukung, tetapi di sisi lain jadi masalah. Makanya cari jalan keluar, tolong kami juga perlu pasokan bawang yang normal,”ucapnya.

Salah seorang pengepul bawang merah Obar ,43, warga Cilingga, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi mengaku usahanya menurun drastis akibat barang langka. Saat normal kata dia, kiriman bawang merah dari Berebes Jawa Timur bisa mencapai 20 ton per hari dengan harga rata-rata Rp12.000 – Rp13.000 per kg yang bisa dijual rata-rata Rp15.000 – Rp16.000 per Kg. Sekarang kata dia, untuk mendatangkan bawang merah sebanyak 5 ton sangat susah.

Untuk saat ini, harga bawang di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya di tingkat eceran perlahan menurun antara Rp45.000 – Rp50.000/kg baik bawang merah maupun bawang putih. Sebelumnya harga bawang merah di pasar Cikurubuk sempat mencapai Rp60.000/kg dan bawang putih mencapai Rp70.000/kg

%d bloggers like this: