Tag Archives: distribusi

10 Ribu Ton Cabai Impor Siap Penuhi Pasar


JAKARTA – Dalam sepekan terakhir hargai cabai rawit melonjak hingga dua kali lipat. Lonjakan terjadi disebabkan oleh akibat gagal panen. Untuk menstabilkan harga cabai, pemerintah bakal mendatangkan 10 ribu ton cabai import pada semester dua.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi membenarkan keputusan pemerintah untuk mendatangkan cabai import. Dia berkata keputusan itu diambil berdasarkan pertimbangan dari Kementerian Pertanian. Berdasarkan laporan yang dihimpunnya, saat ini petani cabai sedang mengalami gagal panen. Sehingga diperkirakan pasokan cabai hingga akhir tahun bakal seret.
“Jika pasokan seret maka harga pasti melonjak. Maka untuk menyeimbangkan diputuskan import,” katanya saat ditemui di kantornya kemarin. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, minggu pertama Juni harga cabai rawit rata-rata nasional Rp 16.143/kg dan saat ini telah naik menjadi Rp 30.000/kg. Untuk menyelesaikan gejolak harga itu, Bachrul tidak menutup kemungkinan import bakal dipercepat.
Bachrul menjelaskan, cabai import bakal masuk di dua pintu masuk hortikultura. Dengan rincian 5.300 ton di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan 4.700 ton di Pelabuhan Belawan, Medan. Izin import cabai tersebut diberikan kepada tiga perusahaan. Sebagian besar cabai itu berasal dari Tiongkok dan Vietnam.
Bachrul menambahkan, terkait pasokan pangan awal bulan nanti bakal ada evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan memperhatikan faktor cuaca yang mempengaruhi produkstifitas. “Akan nada evaluasi lagi nanti. Apakah pasokannya perlu ditambah atau tidak. Dua fokus kami yakni kepentingan petani dan kestabilan harga sehingga inflasi bisa dikendalikan,” jelas Bachrul.
Selain cabai ada 12 komoditas yang saat ini pasokannya masih rawan. Komoditas itu yakni kentang, bawang bombay, bawang merah, wortel, pisang, mangga, jeruk, anggur, melon, papaya, apel, durian, dan lengkeng. Komoditas-komoditas tersebut juga bakal ditambah pasokan importnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dewan Hortikultura Nasional Benny Kusbini. Akibat anomali cuaca yang terjadi beberapa komoditas banyak yang terganggu pasokannya. Gangguan itu berasal dari sisi produksi ataupun distribusi. Misalkan saja cabai diprediksi penurunan produksinya bisa mencapai 40 persen. “Gagal panen merupakan masalah utama. Kebunnya rusak akibat anomali cuaca yang kurang mendukung,” katanya. Selain cabai, Benny juga memantau penurunan produksi komoditas kentang.
Jika tidak segera ditangani, dia khawatir kenaikan harga bakal terus terjadi. Dia menghimbau kepada pemerintah agar bertindak cepat. Jangan sampai kejadian bawang putih pada awal tahun lalu terulang kembali. “Import harus dilakukan. Tapi jangan dilakukan oleh pihak swasta, lebih baik perusahaan BUMN saja. Jika diserahkan kepada swasta bisa terjadi keributan,”jelasnya.

Advertisements

Inflasi tinggi tidak akan berkepanjangan


Pemerintah menyatakan inflasi tinggi pada Februari tidak akan mengganggu asumsi inflasi makro pada tahun ini sebesar 4,9 persen. Tingginya inflasi pada Februari lebih disebabkan oleh faktor musim dan tidak akan berkepanjangan.
Menteri Perencana Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana, mengatakan pemerintah menyadari tingginya inflasi berpengaruh pada angka kemiskinan yang akan meningkat. Maka dari itu penjagaan aspek inflasi menjadi fokus perhatian.
“Kita ingin ini bisa ditangani karena kita juga ada target kemiskinan, di mana stabilitas makro harga inflasi itu penting,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/3).
Armida berharap masa panen pada Maret dan April akan menekan angka inflasi di kisaran rendah. Dalam dua bulan lalu, aspek bahan makanan menjadi penyumbang terbesar tingginya angka inflasi.
Selain mengandalkan masa panen yang akan menambah pasokan bahan makanan, Armida melanjutkan pemerintah juga akan memastikan kelancaran arus distribusi barang.
“Ketersediaannya tentu juga harus dijaga supaya tidak ada lonjakan,” tuturnya.

Sumber: Merdeka.com

Inflasi Maret Bakal Rendah


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Inflasi di bulan Maret diramalkan rendah karena memasuki musim panen. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan inflasi tinggi selama dua bulan ini diperkirakan akibat gangguan cuaca. Cuaca, imbuhnya juga mengganggu produksi dan distribusi.

“Maret ini sudah ada musim panen horti maupun beras, jadi akan ada tambahan paoskan dan berlanjut di April, sehingga ini bisa meredam inflasi,” ujar Bayu, Senin (4/3).

Hanya saja, kata Bayu, Indonesia masih mewaspadai adanya curah hujan yang cukup tinggi di bulan Maret walaupun cenderung lebih ringan dibandingkan bulan Januari maupun Februari. Curah hujan ini berpotensi menghambat distribusi.

Sementara di sisi lain, kata Bayu, proses distribusi kini sudah semakin efisien. Kondisi itu dibuktikan dengan melihat porsi perdagangan skala besar yang semakin kecil. Pada tahun 1990-2011, porsi perdagangan besar mencapai 73,61 persen. Sedangkan, porsi perdagangan eceran hanya 26,39 persen.

Pada tahun 2011, porsi perdagangan besar sudah berkurang menjadi 59,11 persen. Lalu porsi perdagangan eceran naik menjadi 40,89 persen.

Porsi yang semakin besar dari perdagangan eceran ini menunjukkan barang-barang dari sentra produksi sudah bisa langsung didistribusikan melalui ritel, tak lagi melalui grosir atau perdagangan besar. “Dulu dari produsen masuk ke pedagang besar, sekarang dari sentra produksi ke eceran,” katanya.

Meski, imbuh Gita, indikasi itu belum tentu selalu menjadi baik. Alasannya, jika terjadi kenaikan harga di tingkat eceran, pemerintah harus langsung intervensi di sentra produksi, tak lagi melalui pedagang besar atau grosir.

“Misalnya terjadi kenaikan harga beras, pemerintah bisa intervensi di pasar Cipinang dengan menambahkan stok. Sekarang, kalau harga tidak bisa bergerak, kita harus langsung masuk ke sentra-sentra produksi.
Kepentingan untuk intervensi pada kondisi tertentu lebih sulit,” ujarnya.

%d bloggers like this: