Tag Archives: gejolak

Wamentan: Antisipasi Kenaikan Harga Pemerintah Impor Cabai


JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin langkah untuk membuka impor cabai pada 2013 sebagai langkah mengantisipasi kenaikan harga komoditas tersebut, khususnya selama Ramadhan 1434-H dan Lebaran. “Impor cabai bukan untuk mematikan petani, tetapi (antisipasi) harga mahal,” kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan di Jakarta, Ahad (30/6).

Rusman menyatakan, dalam Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) semester dua tahun 2013 cabai merupakan salah satu komoditas yang dimasukkan didalamnya sehingga nantinya akan dibuka izin impornya. Dia mengakui, saat ini harga cabai memang belum terlalu tinggi, namun pada saat memasuki Ramadhan hingga Idul Fitri harganya dipastikan meningkat seiring melonjaknya permintaan di masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga cabai saat puasa dan lebaran sepertinya sudah menjadi siklus tahunan meskipun pemerintah sudah menyiapkan suplai di pasaran. “Ini siklus tahunan, kalau menjelang puasa dan lebaran, mau suplai banyak harga tetap naik,” katanya.

Meskipun terjadi kenaikan harga cabai di pasaran, lanjutnya, namun pada umumnya masyarakat konsumen menilai hal itu sebagai hal yang wajar terjadi selama puasa dan Lebaran. Pemerintah, tambah Rusman, dapat memahami pedagang maupun produsen menaikkan harga cabe selama puasa dan lebaran asalkan masih dalam taraf yang wajar.

Sementara itu, Pelaksana Harian Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Yasid Taufik menyatakan, sebenarnya pasokan cabai Juli-Desember dalam kondisi cukup, sehingga impor hanya untuk antisipasi. “Jumlah yang diimpor sesuai RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura), merupakan jumlah yang normal untuk memenuhi sedikit kekurangan atas kebutuhan. Untuk sementara produksi cabai dalam negeri Juli-Desember 2013 diperkirakan normal,” katanya.

Impor cabai yang akan dilakukan, lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri yang mana selama Juli-Desember komoditas tersebut boleh masuk untuk semester II/2013.

Advertisements

DPRD Jabar Desak Pemprov Proteksi Sentra Bawang


BANDUNG (bisnis-jabar.com)–DPRD Jabar meminta rencana masuknya kuota bawang impor ke Jabar diantisipasi.

Komisi B DPRD Jabar Selly Gantina meminta Pemprov Jabar maupun pusat melindungi atau memproteksi wilayah-wilayah yang menjadi sentra bawang.

“Ini minimal agar bawang impor tidak masuk ke wilayah mereka,”katanya, hari ini.

Menurutnya, menjelang masuknya bawang impor, Pemprov Jabar harus berkoordinasi untuk melakukan pengawasan bersama dengan aparat kepolisian dan masyarakat dalam mengawasi kebijakan tata niaga komoditas bawang dari hulu sampai hilir.

“Apabila terjadi penyimpangan kewenangan dari pihak-pihak lain dengan kuota impor produk hortikultura, maka pemerintah harus dengan tegas mencabut izin usaha mereka. Agar bisa memberikan efek jera,”katanya.

Selly sendiri menduga kenaikan harga bawang merah dan bawang putih serta beberapa komoditas hortikultura lainnya akan menyebabkan kenaikan inflasi.

“Akibat kenaikan harga cabai, pada Februari kemarin inflasinya tertinggi dibandingkan dengan Februari 5 tahun terakhir,” katanya.

Terlebih menurutnya selain bawang ada juga kenaikan dan langkanya daging sapi di pasaran yang akan ikut memberikan andil terhadap naiknya inflasi

Dampak Gejolak Bawang Bagi Produsen Olahan di Tasik


TASIKMALAYA (bisnis-jabar.com) — Mahalnya harga bawang di pasaran membuat produsen olahan berbahan baku bawang kerepotan mensiasati usahanya. Harga jual produksi olahan bawang tidak sebanding dengan harga bahan baku yang melambung tinggi.

Seperti yang dialami pengusaha bawang goreng Enang Heryadi, Pengusaha asal Kampung Lewosari, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya itu terpaksa menutup usahanya sejak beberap minggu yang lalu. Ia sendiri sudah menjalankan usaha tersebut sejak tahun 2004.

“Dalam kondisi normal, harga bawang Rp3.000-4.000/kg saya bisa memproduksi 2,5 hingga 3 kwintal perhari. Sekarang, boro-boro mendapat kualitas bawang bagus, bawang sisa saja sudah mahal. Bahan baku tersebut kalau dipaksakan jelek juga,” ujar Enang di tempat usahanya, akhir pekan lalu.

Sebenarnya, tanda-tanda kemunduran usahanya sudah terasa sejak Desember tahun lalu. Saat itu harga bawang merah sudah menembus angka belasan ribu rupiah per kg-nya. Ia pun mengurangi jumlah produksi. Namun, menginjak bulan Februari 2013, bawang merah segar sudah mencapai Rp20.000/kg. Saat itu ia menyerah dan menutup sementara usahanya sekaligus merumahkan sepuluh pegawainya.

“Kalau tidak tutup, mereka harus tetap saya bayar. Kini masih ada ada enam pegawai yang masih saya upah, mereka yang menjaga kios di pasar Cikurubuk dan dua orang di rumah buat beres-beres,” katanya.

Bapak dua anak itu berharap harga bawang merah dan pasokannya kembali normal. Apalagi empat bulan mendatang akan menghadapi bulan puasa. Biasa di bulan puasa, permintaan banyak dan meraup untung. “Sebagai masyarakat kecil tolong saya berharap harga bawang merah stabil. Niat pemerintah untuk menolong petani saya dukung, tetapi di sisi lain jadi masalah. Makanya cari jalan keluar, tolong kami juga perlu pasokan bawang yang normal,”ucapnya.

Salah seorang pengepul bawang merah Obar ,43, warga Cilingga, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi mengaku usahanya menurun drastis akibat barang langka. Saat normal kata dia, kiriman bawang merah dari Berebes Jawa Timur bisa mencapai 20 ton per hari dengan harga rata-rata Rp12.000 – Rp13.000 per kg yang bisa dijual rata-rata Rp15.000 – Rp16.000 per Kg. Sekarang kata dia, untuk mendatangkan bawang merah sebanyak 5 ton sangat susah.

Untuk saat ini, harga bawang di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya di tingkat eceran perlahan menurun antara Rp45.000 – Rp50.000/kg baik bawang merah maupun bawang putih. Sebelumnya harga bawang merah di pasar Cikurubuk sempat mencapai Rp60.000/kg dan bawang putih mencapai Rp70.000/kg

%d bloggers like this: