Tag Archives: Import

BI Desak pemerintah Perbaiki Neraca Perdagangan Migas


migas

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/07/15/135406226/BI.Desak.pemerintah.Perbaiki.Neraca.Perdagangan.Migas

JAKARTA, Bank Indonesia mendesak pemerintah memperbaiki kinerja neraca perdagangan sektor migas. Sebab, bila kinerja perdagangan migas tak dimitigasi dengan baik, neraca perdagangan tetap akan tertekan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan, jika impor bahan bakar minyak (BBM) masih tinggi, maka capaian kinerja ekspor non migas yang telah menunjukkan perbaikan akan sia-sia.

“Kami khawatir 2014 ini tekanan impor BBM masih tinggi dan perkembangan yang sudah baik, yaitu pertumbuhan ekspor atau pertumbuhan dari surplus neraca perdagangan non migas yang sudah menguat itu tidak diimbangi dengan penurunan defisit migas yang berarti,” kata Agus saat berbuka puasa bersama wartawan di kantornya, Senin (15/7/2014) malam.

Agus menyoroti defisit transaksi berjalan atau current account deficit pada 2012 yang mencapai 24 miliar dollar AS meningkat menjadi 29 miliar dollar AS pada 2013 diakibatkan masih tingginya tekanan akibat impor minyak. Bila transaksi berjalan tetap tidak sehat semacam itu, maka nilai tukar rupiah tetap menjadi korban.

“Kalau nilai tukar tidak didukung current account yang sehat, tentu akan terus mengalami pelemahan. Indonesia tantangannya kita lihat inflasi ada risiko, ada defisit transaksi berjalan, dan defisit fiskal. Kita juga lihat indikator yang paling sederhana adalah defisit neraca perdagangan,” jelas Agus.

BI berharap perbaikan transaksi berjalan dapat dilakukan. Artinya, seluruh pihak harus memberi perhatian dan komitmen penuh terhadap stabilisasi ekonomi Indonesia. “Perlu komitmen semua pihak karena kebetulan ekonomi global sedang menurun. Pada 2015 semua punya harapan lebih baik karena pertumbuhan ekonomi dunia lebih baik,” papar Agus.

Adapun neraca perdagangan Juni 2014 diperkirakan kembali mencatat defisit. Sebelumnnya, pada Mei 2014 neraca perdagangan mencapai surplus 69,9 juta dollar AS. “Defisit neraca perdagangan Juni 300 juta dollar AS karena lonjakan impor,” ungkap Agus.

Advertisements

10 Ribu Ton Cabai Impor Siap Penuhi Pasar


JAKARTA – Dalam sepekan terakhir hargai cabai rawit melonjak hingga dua kali lipat. Lonjakan terjadi disebabkan oleh akibat gagal panen. Untuk menstabilkan harga cabai, pemerintah bakal mendatangkan 10 ribu ton cabai import pada semester dua.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi membenarkan keputusan pemerintah untuk mendatangkan cabai import. Dia berkata keputusan itu diambil berdasarkan pertimbangan dari Kementerian Pertanian. Berdasarkan laporan yang dihimpunnya, saat ini petani cabai sedang mengalami gagal panen. Sehingga diperkirakan pasokan cabai hingga akhir tahun bakal seret.
“Jika pasokan seret maka harga pasti melonjak. Maka untuk menyeimbangkan diputuskan import,” katanya saat ditemui di kantornya kemarin. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, minggu pertama Juni harga cabai rawit rata-rata nasional Rp 16.143/kg dan saat ini telah naik menjadi Rp 30.000/kg. Untuk menyelesaikan gejolak harga itu, Bachrul tidak menutup kemungkinan import bakal dipercepat.
Bachrul menjelaskan, cabai import bakal masuk di dua pintu masuk hortikultura. Dengan rincian 5.300 ton di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dan 4.700 ton di Pelabuhan Belawan, Medan. Izin import cabai tersebut diberikan kepada tiga perusahaan. Sebagian besar cabai itu berasal dari Tiongkok dan Vietnam.
Bachrul menambahkan, terkait pasokan pangan awal bulan nanti bakal ada evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan memperhatikan faktor cuaca yang mempengaruhi produkstifitas. “Akan nada evaluasi lagi nanti. Apakah pasokannya perlu ditambah atau tidak. Dua fokus kami yakni kepentingan petani dan kestabilan harga sehingga inflasi bisa dikendalikan,” jelas Bachrul.
Selain cabai ada 12 komoditas yang saat ini pasokannya masih rawan. Komoditas itu yakni kentang, bawang bombay, bawang merah, wortel, pisang, mangga, jeruk, anggur, melon, papaya, apel, durian, dan lengkeng. Komoditas-komoditas tersebut juga bakal ditambah pasokan importnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dewan Hortikultura Nasional Benny Kusbini. Akibat anomali cuaca yang terjadi beberapa komoditas banyak yang terganggu pasokannya. Gangguan itu berasal dari sisi produksi ataupun distribusi. Misalkan saja cabai diprediksi penurunan produksinya bisa mencapai 40 persen. “Gagal panen merupakan masalah utama. Kebunnya rusak akibat anomali cuaca yang kurang mendukung,” katanya. Selain cabai, Benny juga memantau penurunan produksi komoditas kentang.
Jika tidak segera ditangani, dia khawatir kenaikan harga bakal terus terjadi. Dia menghimbau kepada pemerintah agar bertindak cepat. Jangan sampai kejadian bawang putih pada awal tahun lalu terulang kembali. “Import harus dilakukan. Tapi jangan dilakukan oleh pihak swasta, lebih baik perusahaan BUMN saja. Jika diserahkan kepada swasta bisa terjadi keributan,”jelasnya.

Wamentan: Antisipasi Kenaikan Harga Pemerintah Impor Cabai


JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin langkah untuk membuka impor cabai pada 2013 sebagai langkah mengantisipasi kenaikan harga komoditas tersebut, khususnya selama Ramadhan 1434-H dan Lebaran. “Impor cabai bukan untuk mematikan petani, tetapi (antisipasi) harga mahal,” kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan di Jakarta, Ahad (30/6).

Rusman menyatakan, dalam Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) semester dua tahun 2013 cabai merupakan salah satu komoditas yang dimasukkan didalamnya sehingga nantinya akan dibuka izin impornya. Dia mengakui, saat ini harga cabai memang belum terlalu tinggi, namun pada saat memasuki Ramadhan hingga Idul Fitri harganya dipastikan meningkat seiring melonjaknya permintaan di masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga cabai saat puasa dan lebaran sepertinya sudah menjadi siklus tahunan meskipun pemerintah sudah menyiapkan suplai di pasaran. “Ini siklus tahunan, kalau menjelang puasa dan lebaran, mau suplai banyak harga tetap naik,” katanya.

Meskipun terjadi kenaikan harga cabai di pasaran, lanjutnya, namun pada umumnya masyarakat konsumen menilai hal itu sebagai hal yang wajar terjadi selama puasa dan Lebaran. Pemerintah, tambah Rusman, dapat memahami pedagang maupun produsen menaikkan harga cabe selama puasa dan lebaran asalkan masih dalam taraf yang wajar.

Sementara itu, Pelaksana Harian Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Yasid Taufik menyatakan, sebenarnya pasokan cabai Juli-Desember dalam kondisi cukup, sehingga impor hanya untuk antisipasi. “Jumlah yang diimpor sesuai RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura), merupakan jumlah yang normal untuk memenuhi sedikit kekurangan atas kebutuhan. Untuk sementara produksi cabai dalam negeri Juli-Desember 2013 diperkirakan normal,” katanya.

Impor cabai yang akan dilakukan, lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri yang mana selama Juli-Desember komoditas tersebut boleh masuk untuk semester II/2013.

%d bloggers like this: