Tag Archives: Moneter

STABILITAS KEUANGAN: Ekonomi Global Tak Menentu, Indonesia Waspada


FKSSK

JAKARTA – Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan mewaspadai beberapa perkembangan perekonomian global di tengah kondisi stabilitas sistem keuangan dalam negeri yang positif.

FKSSK menggarisbawahi beberapa faktor a.l. ketidakpastian dampak normalisasi kebijakan the Fed, prospek perbaikan perekonomian dunia yang tidak secepat perkiraan, perkembangan terkait pelemahan pertumbuhan ekonomi di China dan masih tingginya kerentanan eksternal negara berkembang (emerging market).

Sementara itu beberapa faktor dari dalam negeri yakni risiko fiskal atas tingginya beban subsidi BBM, beberapa faktor yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi dan tendensi peningkatan utang luar negeri swasta, juga menjadi perhatian bersama forum beranggotakan pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.

Kewaspadaan itu tertuang dalam hasil rapat FKSSK tentang evaluasi dan penilaian kondisi stabilitas sistem keuangan kuartal I/2014, Senin (7/4/2014) malam, yang dipublikasikan hari ini. Penilaian dilakukan dengan melihat perkembangan makroekonomi, pasar keuangan dan industri perbankan maupun nonbank dari sisi global maupun domestik.

Koordinator Sekretariat FKSSK, Isa Rachmatarwata mengatakan forum akan terus memperkuat langkah-langkah koordinasi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

“FKSSK akan terus memantau dan mengambil langkah-langkah koordinasi untuk memitigasi sumber-sumber kerentanan yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan,” katanya Selasa (8/4/2014).

FKSSK melihat momentum perbaikan ekonomi Indonesia terus berlanjut, didukung oleh perbaikan ekspor di tengah moderasi permintaan domestik.

Perbaikan fundamental ekonomi mendorong perkembangan kondusif di pasar keuangan, tekanan inflasi berangsur menurun, terjadi tren penguatan rupiah dan ekspektasi inflasi terjaga di kisaran sasaran.

Pasar saham dan surat berharga negara (SBN) pun menunjukkan kecenderungan menguat dengan volatilitas rendah, didukung oleh perkembangan ekonomi global yang masih kondusif, perbaikan kondisi fundamental makroekonomi domestik dan dinamika politik domestik.

Sektor perbankan dan nonperbankan juga menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Proses pengalihan kewenangan pengaturan dan pengawasan bank dari BI ke OJK berjalan lancar dan tidak ada gejolak berarti.

Ketahanan fiskal cukup terjaga dengan tetap memperhatikan target penerimaan negara dan upaya untuk meningkatkan kualitas belanja pemerintah dalam meningkatkan daya dorong perekonomian.

Advertisements

Harga Emas Comex Melemah, Ini Penyebabnya


Bisnis.com, JAKARTA— Kontrak emas turun dari level tertinggi dalam 10 pekan karena spekulasi bank sentral Amerika Serikat the Federal Reserve akan memperketat stimulus moneter, sehingga menurunkan permintaan atas logam mulia tersebut sebagai aset lindung nilai (safe haven).

“Pasar sangat ingin tahu jika the Fed akan mempertahankan kebijakan pengetatan stimulus dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Tommy Capalbo, broker Newedge Group sebagaimana dikutip Bloomberg, Selasa (28/1/2014).

Kontrak emas untuk pengiriman April turun 0.1% menjadi US$1.263,50 per ounce pada pukul 13.38 waktu New York atau pukul 12.38 WIB. Sebelumnya harga emas menyentuh US$1.280,10 atau yang tertinggi di antara kontrak paling aktif sejak 18 November.

Perdagangan komoditas itu tercatat 43% di bawah rata-rata 100 hari, menurut data yang dikumpulkan Bloomberg.

BI Dorong Sektor Riil Nusa Tenggara Barat


Bisnis.com, LOMBOK—Seiring dengan fungsi intermediasi perbankan dalam menggerakan sektor riil, Bank Indonesia (BI) tengah mengembangkan program desa binaan ke arah peningkatan ketahanan pangan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala Perwakilan BI wilayah NTB Bambang Himawan mengatakan sektor informal masih membutuhkan peran dari perbankan, terutama Bank Indonesia guna menggerakan roda perekonomian di luar Pulau Jawa.

“Kami ingin mengembangkan program desa binaan di beberapa tempat, dengan mengaitkannya dengan isu ketahanan pangan. Misalnya Sumbawa Barat, kami ingin buat kluster sapi. Nanti juga, kami akan ke Sumbawa Besar yakni dalam pengadaan air,” ujarnya, Sabtu (18/1/2014).

Saat ini, Bank Indonesia telah mengembangkan desa binaan atau program Desa Mandiri Ekonomi BI di Dusun Bun Mudrak, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Dalam program tersebut, BI telah menyalurkan dana pembinaan sekitar Rp1,17 miliar.

Bambang mengaku program yang telah dilaksanakan a.l sistem pertanian terpadu, pengembangan kerajinan tenun, pengembangan ternak, dan pengembangan makanan khas. Hal positif lainnya adalah sebagian besar warga telah mendapatkan air bersih dengan sumur bor, dan memiliki sarana MCK.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan reformasi pembangunan ditentukan oleh kedua pihak yakni pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun demikian, peran masyarakat terbukti jauh lebih penting.

“DPR juga berperan penting baik di pusat atau daerah. Namun paling penting yakni peran masyarakat. Kalau tidak, implementasi dari program desa binaan tidak akan berjalan dengan baik. Kami sendiri sebenarnya hanya sekedar memfasilitasi,” ujarnya.

Menurutnya, sejak bandara penerbangan baru mulai dibangun, roda perekonomian masyarakat Lombok mulai menggeliat. Dia berharap desa binaan Dusun Bun Mudrak yang akan diserahkan ke pemerintah daerah tersebut dapat berkelanjutan.

Selain itu, dia juga berharap Dusun Bun Mudrak bisa menjadi desa percontohan yang baik bagi desa sekitarnya, baik dari sektor energi, pertenunan maupun peternakan. Alhasil, dusun-dusun tersebut dapat menjadi kebanggan NTB.

Dusun Bun Mudrak adalah nama dusun di bawah pedusunan Dusun Baru yang didiami sekitar 79 kepala keluarga atau 250 orang warga. Dusun ini terletak di jalur by pass Mataram—Bandara International Lombok.

Sebagian besar warga Bun Mudarak adalah petani dan peternak, baik sebagai petani penggarap ataupun buruh tani. Beberapa diantaranya juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Sementara itu, kaum perempuan juga memiliki penghasilan tambahan, dengan membuat kain tenun.

Nur Khasanah, ketua kelompok tenun Dusun Bun Mudrak, mengaku adanya binaan dari BI mendorong usaha informal para warga dusun, terutama terkait dengan pemasaran. Dia mengaku tambahan penghasilan dari usaha tenun menjadi sangat menjanjikan.

“Sebelumnya, harga kain tenun kami selalu ditentukan pengumpul. Nah, setelah ada binaan dari BI, sekarang kami yang menentukan harga. Dulu harga kain tenun sutra dijual sekitar Rp750.000, sekarang sudah menjadi Rp3,5 juta,” tuturnya.

Sayang, usaha tenun ini masih menjadi tambahan penghasilan saja, belum menjadi penghasilan utama. Hal tersebut dikarenakan budaya kaum wanita yang lebih memprioritaskan keluarganya, dibandingkan dengan mencari penghasilan tambahan.

%d bloggers like this: