Tag Archives: Publikasi


Yth. Bapak/Ibu,

Simak obrolan di KBR68H mengenai “Upaya BI Mengatasi Lonjakan Harga” pada:
Hari/tanggal : Jumat / 19 Juli 2013
Waktu : Pk.08.00 sd 09.00 WIB
Stasiun Radio : KBR68H
Narasumber : 1. Sdri. Diana Permatasari, Asisten Direktur – Peneliti Ekonomi Senior – DKEM
2. Sdr. Muslimin Anwar, Asisten Direktur – Peneliti Ekonomi Senior – DKEM

Program serupa juga diselenggarakan di beberapa stasiun radio sebagaimana daftar stasiun radio terlampir .

Selamat Mendengarkan

DEPARTEMEN KOMUNIKASI
list 50 radio Sarapan Pagi-1

Advertisements

KAMUS BISNIS: Apa itu JIBOR? Inilah pengertian ringkasnya


Informasi data Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) yang sedianya hanya dapat diakses melalui terminal Sistem Laporan Harian Bank Umum (LHBU) Bank Indonesia, Thomson Reuters dan Bloomberg, kini diperluas publikasinya melalui website Bank Indonesia (www.bi.go.id).

Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) adalah suku bunga indikasi penawaran dalam transaksi pasar uang antarbank atau PUAB di Indonesia. Yang dimaksud dengan suku bunga indikasi penawaran adalah suku bunga pada transaksi unsecured loan antar bank, yang mencerminkan:

* Suku bunga pinjaman yang ditawarkan suatu bank kepada bank lain sekaligus.

* Suku bunga pinjaman yang bersedia diterima suatu bank dari bank lain.

JIBOR terdiri atas 2 mata uang yakni rupiah (IDR) dan dolar AS (US$), dengan masing-masing terdiri dari 6 tenor yakni 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan.

JIBOR diharapkan dapat menjadi suku bunga acuan yang kredibel dan digunakan pada banyak transaksi keuangan di Indonesia, sehingga mendorong pendalaman pasar keuangan domestik karena akan:

a) Mendorong pengembangan PUAB terutama untukt transaksi dengan tenor diatas 1 bulan yang saat ini transaksinya sangat kecil dan tidak memiliki benchmark suku bunga;
b) Mendorong pelaku pasar untuk menciptakan instrumen pasar uang lain yang berbasis suku bunga;
c) Menciptakan benchmark suku bunga bagi transaksi derivatif dan transaksi yang berbasis floating rates;
d) Membantu bank dalam menentukan suku bunga pinjaman dan deposito bagi nasabah prima;
e) Membantu pembentukan benchmark untuk pasar obligasi.

Bank Indonesia terus melakukan upaya penyempurnaan dalam rangka menjadikan JIBOR sebagai suku bunga acuan yang kredibel di pasar uang. Pada tanggal 7 Februari 2011, dilakukan penyempurnaan ketentuan sebagai berikut:

No Penyempurnaan Sebelum Penyempurnaan Setelah Penyempurnaan
1 Batas waktu penyampaian laporan 07.00-17.00 WIB 07.00-10.30 WIB
2 Batas waktu penyampaian koreksi 07.00-17.00 WIB 10.30-11.00 WIB
3 Fixing time Bergerak selama batas waktu penyampaian laporan dan koreksi 11.00 WIB
4 Metode perhitungan Nilai rata-rata dari seluruh kuotasi yang masuk Nilai rata-rata setelah mengeluarkan 1 data tertinggi dan 1 data terendah dari seluruh kuotasi yang masuk
5 Periode evaluasi kontributor Tidak ada evaluasi sejak pembentukan awal di tahun 1993 Setahun sekali (dapat lebih apabila ada kondisi khusus yang menyebabkan perubahan signifikan terhadap kontributor JIBOR)
6 Kriteria penentuan kontributor Belum diatur secara spesifik Keaktifan transaksi di PUAB

Bank Indonesia melakukan monitoring harian untuk meningkatkan kualitas JIBOR, guna memastikan bahwa kuotasi data suku bunga penawaran yang disampaikan oleh bank kontributor JIBOR mencerminkan kondisi pasar.

Selain itu, Bank Indonesia juga terus melakukan upaya penyempurnaan terkait JIBOR yang akan dikomunikasikan kepada pelaku pasar dan publik dalam rangka membangun awareness dan komitmen bersama sebagai bagian dari upaya menjadikan JIBOR sebagai suku bunga acuan yang kredibel di pasar uang domestik.

SUMBER: Bank Indonesia

BI Prediksi Inflasi Januari 0,9 Persen


Jakarta (ANTARA) – Bank Indonesia memprediksi besaran inflasi pada Januari 2013 sebesar 0,9 persen.

“Inflasi pada Januari ini lebih tinggi pada Desember, secara musiman memang biasanya inflasi Januari itu lebih tinggi. Semoga tidak lebih dari satu persen, perkiraan kami inflasi sekitar 0,9 %,” kata Direktur Eksekutif Departemen Riset dan Kebijakan Ekonomi BI Perry Warjiyo di Gedung BI, Jakarta, Jumat.

Perry mengatakan, besaran inflasi tersebut disebabkan naiknya kondisi sejumlah komoditas pada Januari.

“Beberapa komoditas di Januari ini memang ada indikasi harganya akan lebih tinggi dari bulan yang lalu seperti beras, misalnya, ada kenaikan tapi sepertinya tidak terlalu tinggi. Bumbu-bumbuan juga mungkin ada kenaikan namun juga tidak terlalu tinggi. Yang tinggi kenaikannya seperti daging ayam,” ujar Perry.

Menanggapi dampak banjir yang terjadi di Jakarta, Perry mengatakan memang mengganggu kelancaran distribusi barang dan jasa, namun untuk pasokan barang nisbi masih cukup.

“Memang karena kondisi cuaca yang mengakibatkan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah, tidak hanya di Jakarta, mengganggu distribusi barang dan jasa. Namun sebenarnya kalau untuk pasokan barang masih cukup,” ujarnya.

Perry juga menambahkan, banjir tidak akan mengakibatkan ekspektasi inflasi karena sifatnya sesaat.

“Sejauh ini banjir tidak akan menimbulkan dampak ekspektasi inflasi. Karena kalau ekspektasi inflasi itu kan terus menerus, ini kan hanya dampak sesaat di Januari karena ketidaklancaran distribusi barang akibat faktor cuaca,” tuturnya.

Tekanan inflasi memang akan naik dari Desember 2012 akibat curah hujan yang tinggi, namun akan menurun pada Februari lalu mulai rendah pada Maret, April, Mei karena biasanya musim panen dan berlangsung hingga Juli.

“Pada Juli mungkin agak sedikit naik karena ada uang sekolah, jadi secara musimannya tekanan inflasi itu begitu,” kata Perry.

Namun secara keseluruhan, lanjut dia, BI meyakini inflasi hingga akhir tahun tidak lebih dari 5 %.

%d bloggers like this: