Tag Archives: tapering off

Tertekan Tappering Off, Rupiah Lanjutkan Pelemahan


TRIBUNNEWS.COM, Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih kembali melemah setelah sejumlah mata uang regional dan emerging market lainnya kembali mengalami pelemahan.

Rupiah pada posisi kemarin bermukim pada nilai Rp 12.198 per dollar AS. Rupiah kian melemah dari posisi sebelumnya yang berada pada Rp 12.177 per dollar AS.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, pelemahan tersebut setelah terimbas aksi jual seiring dengan makin dekatnya pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) untuk membahas kemungkinan dilakukannya tappering off perdana.

“Selain itu, faktor yang lain berpengaruh pada pelemahan laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yakni inflasi yang akan lebih tinggi,” kata Reza di Jakarta, Selasa (28/1/2014).

Perkiraan inflasi yang akan lebih tinggi secara Month of Month (MoM) dengan meluasnya musibah alam serta melonjaknya nilai tukar Yen karena pelaku pasar beralih pada aset yang lebih aman turut berpengaruh pada pelemahan laju nilai tukar rupiah.

“Pada hari ini diperkirakan laju rupiah berada di bawah support Rp 12.186 per dollar AS. Sedangkan rupiah menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI) di level Rp 12.225 – Rp 12.181 per dollar AS,” katanya.

Advertisements

Ini Prediksi Rupiah/US$ (28/1/14)


Bisnis.com, JAKARTA- Trust Securities memperkirakan kurs tengah Bank Indonesia nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat akan berada di kisaran. 12181- Rp12.225 pada hari ini, Selasa (28/1/2014).

Kepala Riset Trus Securities Reza Priyambada mengatakan laju rupiah masih kembali memperlihatkan pelemahan, setelah sejumlah mata uang regional dan emerging market lainnya mengalami pelemahan.

“Terimbas aksi jual masif dengan makin dekatnya pertemuan FOMC, untuk membahas kemungkinan dilakukannya tapering off perdana,” kata Reza dalam risetnya, Selasa (28/1/2014)

Dia mengatakan perkiraan inflasi yang akan lebih tinggi secara MoM ,dengan meluasnya musibah alam serta melonjaknya nilai tukar yen karena pelaku pasar beralih pada aset yang lebih aman, turut berpengaruh pada pelemahan laju nilai tukar rupiah.

“Laju rupiah berada di bawah support Rp12.186. Kurs tengah Bank Indonesia Rp12.225-12.181,” kata Reza.

Kurs tengah BI Rp/US$

EKONOMI INDONESIA STABIL


KOMPAS.com – Kebijakan yang diambil Indonesia sejauh ini membuat ekonomi lebih stabil dan memberikan kepastian. Kebijakan Indonesia mendapat tanggapan positif. Namun, sebaiknya tak ada lagi pelonggaran likuiditas karena menimbulkan kondisi tidak normal pada perekonomian global.
Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Mahendra Siregar kepada wartawan, termasuk wartawan Kompas, Pieter P Gero, di Davos, Swiss, Kamis (23/2/2014).

Agus, Mahendra, Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos. Forum tahunan yang menghadirkan pemimpin dan pejabat pemerintahan, chief executive officer, investor global, serikat buruh, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat ini berlangsung pada 23-25 Januari 2014.

Mahendra mengatakan, krisis global terjadi karena kebijakan mengerem keuntungan dan spekulasi besar-besaran tahun 2009 lalu. ”Kebijakan quantitative easing (QE/kebijakan likuiditas longgar Bank Sentral Amerika Serikat) tidak memberikan keuntungan ke sektor riil, khususnya buruh,” ujar Mahendra.

Menurut dia, QE seperti memberikan ”darah segar” bagi aksi spekulasi. ”Ini menimbulkan kondisi tidak normal di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Terjadi ketimpangan,” katanya.

Agus menegaskan, kepastian soal pengurangan stimulus moneter (tapering off) sudah dilakukan dengan pengurangan 10 miliar dollar AS setiap bulan dan berakhir tahun 2014 ini. ”Kami melihat kondisi kebijakan QE sudah dalam hitungan kebijakan ekonomi Indonesia,” ungkap Agus.

BI, kata dia, sudah melakukan kebijakan moneter yang sesuai. BI juga sudah berkomunikasi intens dengan sesama negara sedang bertumbuh. ”Untuk mengurangi dampaknya, kami meminta negara maju juga mengomunikasikan setiap kebijakan moneter yang akan dilakukan. WEF (World Economic Forum/Forum Ekonomi Dunia) ini salah satu forum terbaik komunikasi hal ini,” ucapnya.

Namun, di sisi lain, lanjutnya, Indonesia juga perlu memperbaiki perekonomian domestik. Pemerintah pusat, BI, pemerintah daerah, dan sektor riil harus melakukan reformasi struktural dan itu sungguh-sungguh dilaksanakan.

Reformasi struktural itu antara lain memperbaiki infrastruktur, meningkatkan ketahanan pangan, dan memperbaiki ketahanan energi, termasuk mengurangi impor bahan bakar minyak. Selain itu, mendorong daya saing industri, kemandirian ekonomi nasional, dan pemenuhan produk perantara serta menciptakan struktur pembiayaan yang luas, dalam, dan berkesinambungan.

”BI dan pemerintah akan terus melakukan semua ini, termasuk melakukan pendalaman dan perluasan pasar mikro kita,” kata Agus. Ia juga menekankan perlunya memperhatikan pasokan valuta yang masih minim dibandingkan dengan kebutuhan dan menekan defisit transaksi berjalan yang masih tinggi, yakni 24 miliar dollar AS pada tahun 2012 dan 30 miliar dollar AS pada tahun 2013.

%d bloggers like this: