Obyek Wisata Wilker KPwBI Tasikmalaya


OBYEK WISATA WILKER KPwBI TASIKMALAYA

Gunung Galunggung dengan ketinggian 2.241 meter dan berjarak 17 km dari kota Tasikmalaya merupakan salah satu gunung berapi di Propinsi Jawa Barat. Letusan pertama yang tercatat dalam sejarah adalah pada tahun 1822 dengan  menimbulkan korban jiwa  sekitar 4.000 orang.  Letusan  selanjutnya   pada tahun 1982 bahkan erupsinya terjadi hampir 1 tahun lamanya. Dengan melihat kenyataan tersebut maka letusan gunung Galunggung memiliki sifat khas dan unik, karena letusan yang dihasilkannya berlangsung berkali-kali dalam waktu yang begitu lama dan jarang dialami oleh gunung-gunung berapi lainnya.

 Kampung Naga berjarak ± 30 km dan terletak di pinggir jalan raya jalur Tasikmalaya – Garut -Bandung, tepatnya di Desa Neglasari kecamatan  Salawu. Kampung  Naga  merupakan suatu  perkampungan yang masih kuat menjalankan  dan  memelihara  adat  istiadat  leluhurnya.  Beberapa  upacara adat dilaksanakan setiap tahunnya, dan salah satu diantaranya adalah upacara pedaran yang mengisahkan sejarah leluhurnya disertai   dengan   ziarah   ke  makam Sembah Dalem Singaparna, yang merupakan cikal bakal dari masyarakat Kampung Naga tersebut.

Pantai Pangandaran. Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis, memiliki berbagai keistimewaan seperti dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama. Kelebihan lain yang dimiliki Pantai Pangandaran ini adalah pantainya landai tidak berlumpur dan tidak berkarang serta jauh dari muara sungai sehingga airnya bersih dari kotoran. Mengingat keistimewaan tersebut, maka tak heran bila Pantai Pangandaran banyak dikunjungi wisatawan domestik dan asing. Adapun fasilitas pendukung yang tersedia berupa hotel/penginapan (akomodasi), rumah makan dan souvenir shop serta fasilitas rekreasi lainnya.

Green Canyon nama aslinya adalah Cukang Taneuh, terletak di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, ± 31 km dari Pangandaran. Objek wisata ini merupakan aliran sungai Cijulang yang menembus gua dengan stalaktif dan stalaknit yang mempesona serta diapit oleh dua bukit dengan bebatuan dan rimbunnya pepohonan menyajikan atraksi alam yang yang khas dan menantang. Di mulut gua terdapat air terjun Palatar sehingga suasana terasa begitu sejuk. kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya panjat tebing (rock climbing), berenang, bersampan sambil memancing. Untuk mencapai  lokasi ini  wisatawan  dapat menggunakan perahu yang banyak tersedia di Dermaga Ciseureuh, baik perahu tempel maupun perahu kayuh.

Situ Gede merupakan obyek wisata yang menawarkan keindahan panorama alam situ dengan hiasan hutan alam yang berada pada sebuah pulau kecil (nusa) yang terletak di tengah situ. Dengan luas keseluruhan sekitar 47 hektar, dan ditengah nusa seluas satu hektar terdapat Makam Eyang Prabudilaya, salah seorang tokoh agama Islam dari Tasikmalaya. Keberadaan Situ memiliki fungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan sawah di sekitarnya. Sementara keberadaanya pun menjadi daya tarik wisata alam yang cukup besar mengingat letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan. Kawasan Situ Gede memiliki kelengkapan sarana dan prasarana yang setiap tahunnya dilengkapi oleh pemerintah. Di antaranya gapura, loket, musola, toilet, jogging track, serta taman.

Pamijahan merupakan objek wisata religius yang terletak di desa Pamijahan Kecamatan Bantarkalong Kabupaten Tasikmalaya. Luas areal yang menjadi objek wisata kurang lebih 25 hektar. Pada umumnya wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini mempunyai minat khusus yaitu berziarah, sehingga objek wisata ini sangat kental dengan acara-acara ritual keagamaan. Seperti halnya obyek wisata lain keramaian pengunjung pada obeyek wisata Pamijahan juga fluktuatif. Ramainya pengunjung ke Pamijahan bertepatan dengan  hari  besar   Islam, dalam hal ini bulan Maulid merupakan puncak ramainya pengunjung ziarah ke tempat tersebut.

Wisata Urug, terletak 13 Km dari pusat Kota Tasikmalaya, resmi di-launching 5 april 2011. Rest Area Urug sendiri menyajikan atraksi berupa wisata agro, outbound site, camping area dan sarana olah raga. Juga berfungsi sebagai Meeting Incentive Conference and Exhibition (MICE). Wisata ini merupakan hasil kerjasama antara Perum Perhutani KPH Tasikmalaya dan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Sebagai sarana penunjang, telah dibangun fasilitas pendukung seperti gapura, pintu masuk, penataan lahan parkir, gazebo, dan kios-kios.

Situ Lengkong, berada di Kecamatan Panjalu Ciamis. Disamping panorama situ yang memikat, Situ Lengkong juga merupakan salah satu objek wisata ziarah. Setiap minggunya, ribuan umat Muslim berbondong-bondong mengunjungi Situ Lengkong yang airnya dipercaya berasal dari mata air zamzam di Mekkah, Arab Saudi yang dibawa oleh Sanghyang Borosngora pada abad ketujuh.  Asal-usul air ini, rupanya bukan hanya mitos, ada beberapa bukti arkeologis yang mendukung mitos tersebut. Peziarah yang datang ke Situ Lengkong, membawa air dari danau ini sebagai buah tangan. Selain berwudhu di air danaunya, umat muslim juga berziarah ke makam Prabu Hariang Kancana yang dimakamkan di Nusa Gede, sebuah pulau kecil di tengah Danau Situ Lengkong serta mengunjungi bumi alit, sebuah situs museum tempat pusaka Panjalu berada. Pada setiap Bulan Maulud (Rabiul-Awal) dalam penanggalan Hijriah, masyarakat Panjalu menggelar upacara adat “Nyangku” yang dihadiri oleh ribuan pengunjung, mulai dari masyarat biasa hingga pejabat dan petinggi negara.  “Nyangku” berasal dari bahasa Arab “Yanko”, yang artinya  membersihkan benda-benda pusaka keturunan Panjalu, dan lambang hubungan emosional antar sesama keturunan Panjalu, serta kesadaran sesama keturunan Nabi Adam. Benda-benda pusaka tersebut dibawa dengan cara khas yaitu diais (digendong) seperti membawa mayat anak kecil. Mereka beriringan dari Bumi Alit menyebrangi Situ Lengkong menuju Nusa Gede. Upacara ini disertai dengan kesenian gemyung dilanjutkan dengan kesenian debus, dan kesenian pencak silat.

Jembatan Cirahong, terletak di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis, melintang diatas sungai Citanduy. Jembatan Cirahong ini cukup unik, karena selain untuk lewat kendaraan bermotor, jembatan ini sekaligus digunakan sebagai jembatan untuk kereta api. Jembatan Cirahong dibangun mulai tahun 1893 yang merupakan bagian dari pembangunan jalur kereta api sepanjang pulau Jawa. Jembatan ini tak lepas dari peran RAA Kusumadiningrat (a.k.a Kanjeng Prebu). Rencana awal jalur kereta api adalah melintas sejajar sungai Citanduy di sisi selatannya. Melintasi Tasikmalaya, Manonjaya, Cimaragas, Banjar. RAA Kusumadiningrat melihat bahwa Ciamis sebagai ibu kota kabupaten, dan berpenduduk lebih banyak, seyogyanya dilintasi jalur kereta api, dari pada Cimaragas yang berpenduduk sedikit. Oleh karena itu RAA Kusumadiningrat melakukan loby kepada pemerintah Belanda agar jalur kereta api dibelokkan dan melewati kota Ciamis. Setelah melalui lobi yang cukup panjang, akhirnya pemerintah Belanda menyetujui perubahan rencana ini, meskipun dengan konsekuensi biaya yang cukup besar. Jembatan Cirahong mempunyai bentang 202 m dan terbuat dari besi-besi baja yang sangat banyak dan cukup rapat. Saking rapatnya, jembatan ini tampak menyerupai tunnel namun menggantung diatas sungai, bukan menembus bukit/gunung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: